Weaning With Love

ASI dan menyusui sekarang ini semakin mendapat pamor yang baik. Betapa indahnya menyusui, dan betapa intimate-nya melakukan ini dengan anak kita sendiri. Gue cukup setuju dengan citra tersebut, meskipun pada kenyataannya yang namanya menyusui enggak seindah seperti yang digambarkan di iklan-iklan TV atau pamflet-pamflet yang ada di rumah sakit. Menyusui pada kenyataannya adalah sesuatu yang sangat sulit. It is painful, tiring and not pretty. Untungnya, gak selamanya seorang ibu perlu menyusui anaknya. Cuma perlu 2 tahun aja kok. Setelah itu si anak harus belajar untuk berhenti menyusui sepenuhnya. Proses weaning atau disapih ini dimulai dari umur 6 bulan sejak MPASI.

Tapi ternyata, yang namanya weaning itu ternyata juga bukan hal yang mudah. Gimana caranya bikin seorang bayi kecil paham bahwa satu-satunya sumber kenyamanan dan kehangatan yang selama ini dia punya harus tiba-tiba dia lepaskan secara sukarela? It sounds insane, right?! Kita aja yang udah dewasa kadang masih suka gagal move on dari hal-hal yang pernah kita sukai. Seperti misalnya mantan pacar atau drama korea yang bikin air mata berderai-derai. Lah ini. Anak bayi. Harus dibuat ngerti untuk ngelepasin hal yang sangaaaaaaatttt dia sukai secara sukarela. Gimana bisa?!

Let’s Start From The Beginning

Beberapa dari kalian mungkin udah tahu kalau anak gue terlahir prematur. Karena berat lahirnya yang kecil, dia enggak bisa menyusu langsung begitu dia lahir. Dia harus dipasangi berbagai alat yang memungkinkan dia untuk minum susu bahkan cuma setetes aja. Sedih banget. Itu masa terkelam dalam hidup gue. But that is another story for another time.

Dalam perjalanannya mengumpulkan berat badan supaya boleh pulang dari rumah sakit, dia akhrinya dikasih minum pakai botol dot sama para suster di sana. Kata DSA (– Dokter Spesialis Anak) yang dulu merawat dia, “Gak apa-apa lah kasih botol. Biar gak repot.” Dan gue gak komplain. Karena gue gak paham bahwa ada cara lain yang lebih baik untuk kasih minum ke anak yang belum bisa menyusu selain botol dot (– sippy cup salah satunya).

Begitu pulang ke rumah, akhirnya dia kesulitan untuk berpindah dari botol ke menyusu langsung. Butuh usaha keras untuk bisa bikin dia akhirnya mau menyusu langsung. Dan akhirnya, setelah dia terbiasa, gue memutuskan untuk stop pumping dan full menyusui langsung aja. Karena gue gak sanggup harus pompa-pompa sambil harus ngurusin bayi kecil sendirian semuanya. (Well, this is another story for another time too.)

Long story short, kalau lo tahu betapa kerasnya usaha gue untuk bikin anak gue mau menyusu, lo akan paham betapa gak maunya gue untuk menghentikan pengalaman ini dengan air mata. Susah payah gue bikin dia mau menyusu dulu. Jadi gue gak mau dia mengingat pengalaman ini sebagai sesuatu yang menyedihkan.

Disclaimer: Di sini gue cuma share apa yang gue alami. Tapi bukan berarti cara yang gue pakai akan pasti berhasil juga ke semua anak. Kalian boleh banget coba cara gue. Tapi ingat juga kalau setiap anak itu beda-beda. Jadi kalau belum berhasil, jangan patah semangat ya. Get creative and find other ways to make them understand.
First Try

Bulan Desember yang lalu gue tiba-tiba didiagnosa kena usus buntu. Dalam semalam, tiba-tiba gue harus masuk rumah sakit dan dioperasi untuk ngebuang usus buntu gue yang udah mau meledak. Lol!

Ini pertama kalinya gue harus tidur terpisah dari anak gue. Biasanya setiap malam gue akan menyusui dia sampai dia ketiduran. And she loves that so much. Apa boleh buat. Karena terpaksa, akhirnya gue dirawat di rumah sakit selama 3 malam. Dan selama itu juga si Kecil untuk pertama kalinya enggak menyusu sama sekali.

Waktu gue pertama kali balik dari RS, dia kesulitan tidur banget. Dia bakal rewel tingkat dewa karena pengen nyusu. Tapi karena katanya, “Udah lah, tanggung. Sekalian full weaning aja,” gue berusaha keras untuk menolak nyusuin dia. Seberapa keras pun tangisan dia.

Tapi apa daya. Mommy lemah. Gak tega. Sedih rasanya ngelihat dia kayak gitu. Dia mau sesuatu. Dan gue bisa kasih. Tapi somehow, karena apa kata orang, gue memutuskan untuk enggak kasih itu ke dia. Sedih banget rasanya.

Akhirnya cuma bertahan 1 malam gue gak nyusuin dia. Setelahnya gue terusin menyusui lagi seperti biasa. Dan akhirnya dia bisa juga tidur dengan tenang lagi.

Kemunduran? Iya. Tapi gue gak peduli deh. Gue lebih memilih untuk dianggap lemah dan gak tegaan daripada harus ngelihat anak gue nangis-nangis begitu setiap malam. Lagian dia belum genap 2 tahun juga. Jadi secara teori, memang belum umurnya untuk harus full weaning kan.

Second Try

Setelah ngerayain ulang tahun si Kecil yang kedua, dan pulih dari usus buntu gue sepenuhnya, gue mulai sibuk lagi dengan bisnis gue. Waktu itu gue lagi sibuk nyiapin sebuah event. Makanya selama beberapa malam berturut-turut gue enggak boboin si Kecil. Dia bobo sama Daddy. Dan, surprisingly, dia bisa tidur tanpa nyusu sama sekali selama beberapa malam berturut-turut.

Wow! Keren amat! Gue pikir menyapih sampai full weaning akan penuh drama kayak yang dibilang orang-orang. Bahkan ada yang sampai tempel-tempel tensoplast di payudara, atau olesin pakai minyak cabe, atau apa lah trik-trik lainnya yang bikin si anak kapok nyusuin. Ternyata anak gue pinter juga udah ngerti sendiri.

Or so I thought. Karena ini gak berlangsung lama.

Suatu hari, tanpa sengaja ada yang menyinggung soal “nenen” ke dia. Cuma pertanyaan simpel yang kayaknya biasa aja. Tapi sejak itu, dia jadi keinget lagi soal nyusu dan malah makin “ganas” kalau enggak dikasih. Tangisannya bakal makin kencang dan lama. Dan bakal dengan amat sangat memohon-mohon dibolehin nyusu lagi. Ouch! Sedih bangeeeettt! 😭

Akhirnya lagi-lagi gue menyerah. Enggak tega lihat dia nangis-nangis begitu. Gue izinin dia menyusui lagi dengan banyak batasan. Kayak enggak boleh nyusu di mobil lagi (– karena ini kesukaan dia banget). Dan setiap kali dia minta nyusu, gue akan buka dengan sesi pertanyaan panjang lebar: “Mau nyusu? Kan udah gede. Emang susu Mommy masih ada? Paling sebentar juga udah habis. Kan kamu udah gede. Udah gak perlu nyusu lagi. Cuma dedek bayi yang nyusu.” And so on. And so on…

No More Try

Akhirnya gue semakin lelah hayati. Rasanya udah gak gitu nyaman ngelakuin ini. Tapi mau berhenti pun enggak tega. Jadi terjebak di tengah-tengah gitu rasanya. Pengen dia enggak trauma, tapi di satu sisi sadar kalau ini enggak boleh berlangsung terus-terusan.

Jadilah gue mulai sounding lagi ke dia. “Kamu sudah mau sekolah loh. Nanti kalau udah sekolah, udah gak boleh nenen lagi ya.”

Terus, terus, dan terus gue ulang kalimat ini setiap kali dia minta nyusu. Dan ternyata milestone sekolah adalah sesuatu yang sangat dia nanti-nantikan. Buktinya dia sering banget ngomong ke orang-orang, “Lala mau sekolaaahh!!” Haha! Very cute! Dan sekalian aja gue pakai untuk jadi target terakhir supaya bisa dia bisa full weaning.

Libur lebaran kemarin, kami sekeluarga pergi ke luar kota. Mungkin karena perjalanan yang panjang berhari-hari, dan banyak banget distraction di tempat-tempat baru buat dia, akhirnya dia bisa juga enggak nyusu sama sekali selama liburan di luar kota. Tapi gue enggak mau jumawa dulu nih. Jangan-jangan entar malah ZONK kayak dulu lagi.

Suatu malam, setelah pulang dari liburan, gue lagi boboin dia di kamar. Entah dia lagi mikirin apa, dia menatap dada gue dengan pandangan rindu (– cie ileh). Terus tiba-tiba dia nunjuk gue sambil bilang, “Nenen Mommy udah abis.”

WAWWW!! Akhirnyaaaa dia pahaaammm!! Gue langsung bersorak penuh kemenangan. 🤣

“Iya, nenen Mommy udah habis. Kan kamu udah gede. Udah gak perlu lagi. Makanya habis.”

Dan sejak saat itu, dia dengan sadar menahan diri untuk enggak minta nyusu lagi. Pernah kejadian suatu malam dia kebangun dan keinget minta nyusu lagi. Gue gak kasih dan dia nangis. Tapi nangisnya enggak sampai tantrum yang parah banget. Dia masih bisa kontrol dirinya dan balik tidur lagi setelah beberapa saat.

Moral of The Story

Weaning with love itu bukan hal yang gampang ya, Moms. Pengen banget pake cara kasar aja karena kayaknya lebih mudah. Butuh kesabaran yang buanyak banget untuk bikin si kecil paham. Ada yang butuh waktu banyak, ada yang cuma butuh waktu yang singkat. Balik lagi, setiap anak beda-beda. Jadi jangan sampai kita menganggap diri kita gagal karena enggak juga bisa meyakinkan si kecil untuk berhenti menyusu. It takes time. And eventually they will understand.

Kalau dari pengalaman gue, kuncinya cuma satu: SABAR. Kasih tahu terus-menerus. Sampai dia bosan. Sampai nempel di otaknya apa yang seharusnya dia lakukan. Kalau perlu sampai jadi credo yang berlagu di otaknya.

Jangan menyerah, Moms. Menyusui dan menyapih adalah dua sisi mata uang. Kalau kita siap untuk menyusui, kita juga harus siap untuk menyapih. Dan, CATAT, dua-duanya sama capek dan repotnya loh…! (Hadeh… A Mom’s life… Apa boleh buat deh ya…) Kalau misalnya memang sudah amat sangat lelah dan memilih untuk pakai trik-trik jaman baheula, ya gak apa-apa juga. Itu semua pilihan. Yang penting gol-nya sama. Si anak bisa belajar untuk lepas menyusui dan dia bisa pelan-pelan belajar untuk tumbuh semakin dewasa secara mental.

Thanks for reading this. Baca juga artikel-artikel gue yang lain tentang motherhood di sini. Jangan lupa juga buat tinggalin komen di bawah kalau lo punya pengalaman atau pertanyaan tentang weaning.

Spread love,

hiLda

Leave a Reply