Surviving Self Quarantine

Hai semua! Apa kabarnya? Masih #DiRumahAja? Sudah hampir 4 minggu loh kita yang di Indonesia menjalani self quarantine. Gimana kondisi lo sekarang physically and emotionally? Stress? Galau? Resah? Khawatir? Kayaknya sulit untuk tetap happy dalam kondisi kayak begini ya.

Sebulan ini gue off dari nulis blog. Awalnya karena gue sibuk ngurusin kerjaan yang lain. Tapi begitu self quarantine dimulai, gue sibuk merangkap jadi segala macam profesi di rumah: jadi mommy, jadi chef dan jadi guru preschool. Ada lagi kah para ibu lainnya yang merasakan hal yang sama? Gue yakin banyak banget tangan yang terangkat. Haha!

Bukan itu aja. Belum lagi gue juga harus menyesuaikan ritme kehidupan dengan segala perubahan karena suami work from home dan anak school from home. No more me time for me. Gak ada lagi waktu buat gue diem sendirian dalam keheningan dan berusaha mencari inspirasi yang terbenam di dalam otak gue. Sebagai seorang introvert, ini adalah hal yang esensial banget buat gue. Tapi sekarang rasanya sulit banget didapat dengan terkungkung di dalam rumah begini. That’s what has been so stressful for me.

Memang gue sudah 3 tahun ini “diam di rumah”. Meskipun gue tetap berkarya dengan segala macam usaha yang gue buat, gue selalu melakukannya dari rumah. Jadi #DiRumahAja awalnya enggak begitu sulit buat gue. Karena kurang lebih keseharian gue tetap sama. Aktifitas gue di luar enggak banyak.

Tapi yang bikin ini lama kelamaan jadi sulit adalah karena anak gue semakin lama merasa semakin lonely karena gak bisa ketemu teman-temannya. Ketika seorang anak umur 3 tahun kesepian, dia belum bisa meng-entertain dirinya sendiri. Jadi dia pasti akan cari gue untuk minta ditemenin main. Atau minta dibacain buku. Atau minta ditemenin nonton video. She just become so needy. And most of the time I can’t say no. Karena gue pun merasa kasihan sama dia yang harus terkungkung di dalam rumah begitu lama tanpa bisa melakukan aktifitasnya yang biasa.

Anybody Feels The Same?

Well gue rasa banyak dari kita yang struggle dengan masalah pribadi kita masing-masing selama masa self quarantine ini. Mungkin buat lo yang belum berkeluarga, tantangannya beda lagi. Mungkin justru lo yang anak kos atau perantauan malah merasa super kesepian karena enggak ada yang bisa diajak ngobrol seharian. Sementara gue malah lelah diajakin ngobrol sama bocah sepanjang hari. Haha!

Everyone has their own struggle. Tapi, most likely, kita semua punya pertanyaan yang sama. How can we survive this? Berapa lama ini akan terus berlangsung? Kapan gue bisa nge-mal lagi? Kapan gue bisa ketemu teman-teman gue lagi? Kapan gue bisa traveling lagi?

It’s crazy. But nobody can give us any definite answer. Which should makes us even more restless. But there’s nothing we can do to change it. So we are also hopeless. We are restless and hopeless. How worse can it be?!

Di masa kayak gini rasanya gak ada yang bisa kita lakukan. Kita cuma bisa pasrah dan menjalani hari-hari dengan rasa nestapa yang gak mau hilang. More or less, kita nih kayak lagi berduka. Karena kita kehilangan “situasi normal” kita. Hidup kita di-disrupsi secara tiba-tiba. Dan kita dipaksa untuk beradaptasi pada sebuah cara hidup yang asing buat kita. Social distancing, online meeting, supermarket rush… Semuanya adalah hal-hal yang dulu enggak akan ada dalam situasi normal. Tapi sekarang, hal-hal itu malah jadi sesuatu yang normal.

The New Normal

Inilah situasi normal kita yang baru. Di mana rumah sekarang berintegrasi jadi kantor dan sekolah juga. Di mana ketemu sama teman baik harus berjauhan paling enggak 1 meter dulu. Di mana kalau kita bersin dan kita enggak pakai masker semua orang akan langsung pergi menjauh atau bahkan ngomelin kita. Di mana kita harus beli segalanya online atau meresikokan diri ketularan virus waktu ngantri di supermarket.

Mau gak mau kita jadi semakin paranoid. Sebisa mungkin enggak menyentuh permukaan apapun di tempat umum. Kalau ada orang yang mendekat kita mundur untuk mengambil jarak beberapa langkah. Dan kita juga jadi harus menahan diri untuk enggak sering-sering makan di luar. Kalaupun pengen makan di luar, lebih memilih untuk beli bungkus aja daripada makan di tempat. Daripada beresiko terkena penyakit ketika kita terlalu lama ter-ekspose di tempat umum.

Banyak perubahan yang terjadi. Dan kalau ditanya kapan situasi akan kembali normal? Honestly, menurut gue, situasi enggak akan pernah lagi 100% kembali seperti dulu. Suatu hari virus COVID-19 ini pasti akan pergi. Itu pasti. Tapi para manusia yang survive dari pandemik ini akan memiliki pola hidup yang berbeda dari sebelumnya. Dengan tingkat rasa waswas yang lebih besar daripada sebelumnya. Dan kesadaran akan kesehatan dan lingkungan hidup yang juga lebih besar daripada sebelumnya (– hopefully).

Dan kalau ini adalah “our new normal”, akan sangat bodohlah kita bila kita berusaha mengembalikan waktu ke masa sebelum virus COVID-19 beredar di udara. Virus ini menghantam dunia secara global. Ini adalah krisis kemanusiaan. Semua orang di muka bumi ini terkena imbasnya. Jadi, mari kita hadapi realita, enggak mungkin kita tetap menjalani pola hidup kita yang reckless di masa lalu. From this now on, kita wajib menanggapi flu, bahkan flu biasa sekalipun, dengan lebih serius. Kita enggak akan lagi sembarangan pergi ke luar tanpa mencuci tangan dengan benar. Dan gue yakin mulai sekarang hand sanitizer jadi barang wajib yang selalu stand by di dalam tas semua orang.

Acceptance

Ada 5 tahap dalam berduka: denial, anger, bargaining, depression and acceptance. Memang tahapan ini dibuat oleh para psikolog untuk menghadapi rasa duka karena kehilangan seseorang yang dikasihi. Tapi kurang lebih, gue rasa tahapan ini juga cocok untuk diadaptasi dalam situasi sekarang ini. Karena sebenarnya sumber stress kita itu sebagian besar disebabkan oleh kita yang enggak bisa menerima perubahan kondisi normal kita yang biasa.

Mungkin awalnya kita marah karena harus melakukan self quarantine. Ada yang gak bisa kuliah. Ada yang mata pencahariannya terhambat. Amarah itu mungkin berujung pada depresi. Yang bikin hari-hari kita semakin suram. Kita terus menghitung hari di mana peraturan pembatasan dari pemerintah dicabut. Tapi pada kenyataannya, tanggal itu malah terus dimundurin. Enggak tahu sampai kapan. We feel hopeless. Yang mana bikin hari-hari kita yang sudah terkungkung secara fisik, semakin menyiksa karena kita juga terkungkung secara emosional.

Tapi suatu saat, kita HARUS sampai pada acceptance. Suatu kondisi di mana kita pada akhirnya bisa menerima situasi yang sekarang ini terjadi dan menjadikannya sebagai sesuatu yang permanen dan harus kita jalani.

We learn to live with it. It is the new norm with which we must learn to live. We must try to live now in a world where our loved one (– atau dalam topik ini, kondisi normal kita) is missing. In resisting this new norm, at first many people want to maintain life as it was before a loved one died. In time, through bits and pieces of acceptance, however, we see that we cannot maintain the past intact. It has been forever changed and we must readjust.

grief.com

Ini adalah deskripsi tentang tahap acceptance. Dan kita PERLU untuk sampai ke sana. Supaya kita bisa survive dalam masa self quarantine yang panjang ini.

Thanks for reading this. Leave your comment below. Dan follow juga Instagram gue di sini atau LINE Official Account gue di sini untuk selalu dapat update terbaru dari blog Ijofreak.

Spread love,

hiLda

Leave a Reply