Parasite

Pertama kali gue mendengar tentang film ini, gue pikir dari judulnya dia menceritakan tentang wabah penyakit (– something like corona virus maybe…). Tapi ketika gue cari tahu lebih dalam tentang film ini, ternyata ceritanya sama sekali enggak ada hubungannya dengan virus parasit apapun. Lalu kenapa dikasih judul “parasite” ya? Kalau lo penasaran juga, coba cek trailer-nya dulu di bawah ini.

Belum sempat gue nonton film ini, ternyata kemarin dia sudah mencetak sejarah di ajang Oscar. Bukan hanya sebagai film non-English pertama yang memenangkan Best Picture di Academy Awards, dia juga menyabet 4 penghargan sekaligus: Best Picture, Best Directing, Best International Feature Film, dan Best Writing for Original Screenplay. Tahu gak siapa yang terakhir kali bisa memenangkan 4 piala Oscar sekaligus dalam satu malam? Walt Disney, di tahun 1954. So, Bong Joon Ho is definitely making a mark on the history. Dan yang paling impressive adalah fakta bahwa dia adalah orang Asia, yang bikin kemenangannya di Oscar kemarin seolah jadi kemenangan buat para movie maker Asia juga.

Maka saking penasarannya, gue langsung cari film ini dan nonton. Gue pengen tahu apa yang bikin film ini spesial. Yang ngebedain dia dari film-film nominasi Best Picture lainnya dan bikin dia layak jadi pemenangnya. Yuk kita kupas film “Parasite” dan cari tahu pesan apa yang tersembunyi di dalam ceritanya yang unusual dan bikin dia jadi pencetak sejarah.

Human Parasites

Jadi, “parasite” yang dimaksud di film ini bukanlah virus parasit kayak yang gue pikirin sebelumnya. Tapi ternyata yang dimaksud “parasite” adalah manusia parasit. Seseorang yang tingkahnya kayak di lagunya Gita Gutawa yang judulnya “Parasit”: mulanya malu-malu, lalu jadi benalu.

Alkisah, keluarga Kim adalah keluarga miskin yang tinggal di sebuah rumah semi basement. Keluarga mereka beranggotakan 4 orang: Kim Ki Taek, sang ayah; Kim Chung Sook, sang ibu; Kim Ki Jung, anak perempuan; dan Kim Ki Woo, anak lelaki. Hidup mereka sangat susah hingga kedua anaknya Ki Jung dan Ki Woo enggak bisa meneruskan sekolah. Hingga suatu hari Ki Woo mendapat kesempatan dari temannya untuk menjadi tutor Bahasa Inggris bagi seorang anak keluarga Park yang kaya raya.

Ki Woo memalsukan ijazah dan identitasnya untuk bisa diterima sebagai tutor di sana. Dan dengan kemampuan akting-nya yang meyakinkan, akhirnya Ki Woo mendapatkan pekerjaan itu. Dan dia pun menyusun rencana supaya seluruh keluarganya bisa masuk ke rumah itu dan menjadi pekerja di sana.

Long story short, akhirnya sang ayah berhasil mendapat pekerjaan sebagai sopir, sang ibu menjadi asisten rumah tangga, dan sang kakak perempuan menjadi guru menggambar untuk anak bungsu keluarga itu. Hidup mereka jadi sangat mudah sejak saat itu. Hingga suatu saat, ketika keluarga Park sedang pergi camping, dan keluarga Kim sedang menikmati rumah majikan mereka yang kosong, sebuah rahasia tentang rumah itu terungkap dan mengubah hidup mereka.

!! MAJOR SPOILER ALERT !!
IT IS RECOMMENDED TO WATCH THE MOVIE FIRST BEFORE YOU CONTINUE READING

Not A Hustle Movie

Ketika menonton paruh pertama film, gue pikir film ini bakal bercerita tentang tipu-menipu ala Ocean’s Eleven. Gue pikir, tujuan keluarga Kim adalah untuk mengambil alih rumah itu dengan menggunakan tipu muslihatnya. Seperti cara mereka berhasil masuk ke rumah itu dengan tipu muslihat mereka. Apalagi ditambah dengan bumbu percakapan mereka ketika mereka sedang mabuk di ruang tamu rumah itu. Ki Woo bahkan bertanya pada Ki Jung, kamar mana yang dia inginkan kalau mereka bisa memiliki rumah itu.

Pelan-pelan, penonton digiring untuk membuat sebuah asumsi. Bahwa mereka akan mengambil alih rumah itu. Tapi tiba-tiba bel berbunyi dan Moon Gwang, sang asisten rumah tangga keluarga Park sebelumnya yang dipecat akibat ulah mereka, datang. Dan sebuah rahasia pun terungkap. Bikin kita enggak tahu lagi jalan cerita ini mau dibawa ke mana.

Penulisan cerita ini benar-benar keren menurut gue. Ini yang bikin penonton jadi enggak bisa berkedip sedetik pun. Dan peralihan plot-nya pun sangat halus. Jadi gak ada kesan “ujug-ujug”. Kok tiba-tiba begini? Kok tiba-tiba begitu? Semuanya diceritakan dengan rapi sehingga penonton paham dan menerima apa yang terjadi. Maka enggak heran kalau film ini juga menyabet piala Oscar untuk kategori Best Writing for Original Screenplay.

The Message Beyond The Movie

Paruh terakhir film dipenuhi dengan adegan-adegan yang bikin kaget. Memang meskipun menyandang tema thriller, film ini enggak sadis macam film Saw. Tapi kita tetap dibuat kaget karena cerita yang berbelok tiba-tiba dan gak bisa diantisipasi sebelumnya.

Salah satu adegan yang menurut gue paling krusial di film ini adalah ketika Kim Ki Taek tiba-tiba menusuk Park Dong Ik cuma karena dia mengernyitkan hidung. (Kalau lo belum nonton, lo harus nonton dulu film ini sampai habis untuk paham apa yang gue maksud.) Itu adalah sebuah tindakan yang impulsive banget. Mungkin Ki Taek tersulut emosinya karena semua tragedi yang terjadi malam sebelumnya.

Tapi, kalau dipikir-pikir, agak keterlaluan juga ya orang dibunuh cuma gara-gara ngatain dia bau. Tindakannya jelas-jelas enggak bisa di-justify. Tapi apakah kita merasa kasihan sama Park Dong Ik karena dia mati sia-sia? Gue rasa enggak. Karena dari awal kita tahu bahwa meskipun dia adalah seorang businessman yang sukses, dia adalah typical orang kaya yang sombong dan berpikir bahwa dirinya yang paling hebat. Dia bukan orang jahat, tapi juga bukan orang yang baik. Dia memang enggak melakukan tindak kriminal dengan merendahkan orang yang derajatnya lebih rendah darinya. Tapi fakta bahwa kita enggak berempati sama kematiannya, menyatakan banyak hal tentang gimana society modern yang kita hidupi sekarang. Kita malah jadi lebih berempati sama Kim Ki Taek yang jelas-jelas adalah pelaku kriminalnya.

Maka setelah dua jam gue nonton film ini, gue mikir. Apa sih maksudnya semua cerita itu? Kenapa ending-nya malah bunuh-bunuhan kayak begitu? Ternyata, setelah mikir panjang (– dan baca-baca di internet), film ini sebenarnya pengen ngegambarin tentang kapitalisme. Betapa jauhnya social gap antara si kaya dan si miskin. Gimana susahnya hidup si miskin sehingga hujan sedikit aja udah bikin rumah mereka tenggelam. Sementara si kaya masih bisa tetap hidup dengan nyaman dan bisa ngadain pesta sehari setelahnya kayak gak terjadi apa-apa.

Mungkin apa yang Kim Ki Taek lakukan ngegambarin gimana perasaan para kaum yang tertindas oleh para kapitalis. Gimana rapuhnya relasi antara si miskin dan si kaya, sehingga ketika tersulut sedikit aja, dan ketika ada kesempatan sedetik aja, tragedi bisa terjadi. Sadar atau enggak, itulah kondisi masyarakat kita sekarang. Dan bukan cuma di Korea aja ini terjadi, tapi juga di negara kita tercinta, Indonesia.

Something Gotta Change

Because in this movie, in the end, nothing is changing. Di akhir cerita, Ki Woo menulis sebuah surat untuk ayahnya. Dia berjanji bahwa suatu hari dia akan mengumpulkan uang yang banyak sampai dia mampu untuk membeli rumah itu dan membebaskan ayahnya. But, let’s be real. Sampai berapa lama orang dengan kemampuan ekonomi seperti Ki Woo, mampu membeli rumah mewah itu? Maybe not in his lifetime.

Jadi, mungkin apa yang bikin “Parasite” bisa memenangkan Best Picture di 92nd Academy Awards tahun ini adalah pesan itu. Bahwa ada sesuatu yang harus diubah dalam kehidupan modern kita ini. Bahwa pola hidup kita yang sekarang sebenarnya memiliki cacat. Sebuah cacat yang sangat rentan meledak, menjadi api yang besar dan menghancurkan tatanan hidup kita saat ini.

Mungkin kita sendiri pun masih belum tahu bagaimana cara mengubahnya supaya keadilan sungguh dapat dinikmati oleh semua orang. Tapi paling enggak dengan kehadiran “Parasite” dalam filmography dan sejarah kultural kita, kita jadi sadar akan cacat itu. Dan mungkin suatu hari kita bisa menemukan apa yang perlu kita lakukan untuk memperbaikinya.

Thanks for reading this. Leave your comment below. Dan follow juga Instagram gue di sini atau LINE Official Account gue di sini untuk selalu dapat update terbaru dari blog Ijofreak.

Leave a Reply