Share? Or Not Share?

Kali ini gue masih mau ngomongin soal social media. Sebuah fenomena baru yang mengubah pola hidup manusia banget. Mungkin sesuatu yang sama revolusionernya dengan ketika manusia purba pertama kali berhasil membuat api. Haha!

Karena ini adalah sesuatu yang baru, banyak orang yang masih mereka-reka. Barang apaan sih social media itu sebenarnya. Gimana dampaknya terhadap kehidupan sosial kita? Apa akibatnya kalau digunakan dengan enggak bijaksana?

Nah salah satu kesalahan yang menurut gue paling sering dilakukan orang di social media adalah: over share. Yaitu ketika seseorang enggak paham lagi batasan antara kehidupan pribadinya dengan kehidupan yang dia publikasikan di social media-nya.

Pernah gak sih lo sampai males banget bacain curhatan orang di social media yang kayaknya too much? Atau orang yang terlalu mengumbar kehidupannya di social media sampai kita tahu hari ini dia lagi ada di mana, makan apa dan sama siapa.

Erm.. Sebenarnya gak ada yang ngelarang ngelakuin itu sih. Cuma, ada hal-hal yang mungkin lebih baik kita simpan sendiri untuk pribadi atau orang-orang terdekat aja. Karena kalau hal-hal semacam ini bisa dengan mudah dikonsumsi publik, bisa jadi dampaknya malah negatif ke kehidupan kita sendiri. Kayak bisa aja kita malah jadi sasaran kejahatan cyber crime saking gampangnya orang mencari tahu tentang kehidupan pribadi kita dari social media. Atau orang jadi punya persepsi yang salah terhadap kita karena apa yang dia lihat di social media.

So, menurut gue, ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan untuk bisa jadi bijaksana dengan isi social media kita. Jadi, buat gue, sebelum gue nge-post sesuatu di social media, gue akan menanyakan beberapa pertanyaan berikut ini dulu ke diri gue sendiri.

1. Apakah Ini Berguna Untuk Orang Banyak?

Banyak orang yang menjadikan social media sebagai sarana berbagi informasi. Dan ada beberapa profesional (seperti dokter, guru, profesor) yang menjadikan social media sebagai sarana untuk membagikan ilmunya kepada orang banyak. Ini sangat baik! Karena kita sebagai pembacanya jadi punya banyak akses terhadap informasi berharga yang biasanya aksesnya terbatas.

Tapi, ketika seseorang menggunakan social medianya buat curhat, marah-marah, atau jelek-jelekin seseorang (atau sesuatu yang mengecewakan), sebenarnya itu gak ada faedahnya buat orang banyak. Gunanya cuma buat meluapkan kekesalan yang ada di dalam dirinya aja – yang mana, sebenarnya, lebih baik dilakukan di ranah pribadi aja (sama orang-orang terdekat aja, atau di closed group yang isinya orang yang dia kenal dengan baik).

Because, seriously, nothing good will come out if you were raging in a public place. Bayangkan kalau lo lihat orang yang lagi marah-marah sama seorang waiter di sebuah restoran yang ramai. Ngeselin kan? So, anggap aja social media lo sebagai restoran yang banyak pengunjungnya. Kalau lo gak mau dicap sebagai orang dengan EQ rendah, sebaiknya jangan ngelakuin itu juga di social media.

2. Apakah Ini Fakta Atau Opini?

Tahu kan bedanya fakta dan opini? Fakta adalah sesuatu yang nyata. Opini adalah pendapat seseorang terhadap sesuatu. Definisi keduanya memang jauh berbeda. Tapi sayangnya, kedua hal ini sering enggak bisa dibedakan di social media.

Ada banyak orang yang membagikan ilmu gratis di social media. Tapi sayangnya, kebanyakan dari mereka sering berlagak seperti seorang expert supaya kelihatan meyakinkan dan makin banyak follower-nya. Mereka enggak menyatakan apakah yang mereka bagikan itu fakta atau opini dengan jelas. Sehingga akhirnya seringkali pembacanya salah kaprah atau salah paham. Kalau ini yang terjadi, yang jadi korban adalah si pembacanya. Bukan si celebgram. Ironis toh?

So, sah-sah aja kalau mau berbagi opini di social media. Tapi pastikan lo menyatakan itu dengan jelas. Bahwa apa yang lo tulis adalah opini lo sendiri. Kayak artikel ini. Ini adalah opini gue. Lo mau ikutin silakan. Lo mau anggap ini salah pun silakan. Karena ini opini. Dan opini gue bisa salah. I’m open to suggestion. Kalau opini gue dirasa salah kalian bebas untuk tinggalin komentar di bawah artikel ini. Dan gue bisa mengubah opini gue kapan aja. Berbeda dengan fakta. Karena fakta enggak bisa didebat. Dan fakta juga gak bisa diubah. Makanya, penting banget untuk bisa bedain keduanya.

3. Apakah Ada Data Pribadi yang Tertera di Sini?

Pernah beberapa kali gue ngelihat teman-teman gue yang excited banget karena mau pergi ke luar negeri terus post foto tiket pesawatnya atau passport-nya di media social. Ini juga sebenarnya boleh-boleh aja, asal bagian data yang sensitif-nya gak ikut masuk ke dalam foto.

Bingung bedain mana data sensitif dan mana yang enggak? Lo ingat-ingat aja data yang biasa ditanya untuk verifikasi waktu telepon ke phone banking atau institusi finansial lainnya. Yang paling standar adalah tanggal lahir dan nama ibu kandung. Ini sebaiknya enggak disebarluaskan.

Hal lainnya lagi yang menurut gue juga paling enggak boleh dipublikasikan adalah nomor identitas diri (KTP, SIM, dan passport), alamat, dan nomor telepon. Hanya bagikan data ini ke institusi yang lo percaya aja ya.

Juga jangan lupa, kalau di passport atau tiket pesawat itu kadang ada barcode-nya. Mungkin di situ gak ada tulisannya. Tapi kalau seluruh gambar barcode tertangkap dengan jelas di foto, orang dengan mudah bisa nge-scan gambar itu dan mendapatkan semua informasi di passport atau tiket lo. Jadi hati-hati ya.

4. Apakah Ini Mengundang Orang Untuk Melakukan Kejahatan?

Yang satu ini benar-benar tergantung sama kebijaksanaan masing-masing. Ada orang yang bahkan enggak mau mukanya terpampang di social media mana pun. Ada yang menganggap orang yang terlalu tertutup semacam itu adalah orang aneh. Haha!

So, untuk hal yang satu ini, benar-benar tergantung sama pergaulan sosial lo dan lingkup media sosial lo. Kalau lo orang yang punya banyak follower yang gak lo kenal sama sekali, mungkin ada baiknya lo agak ngebatasin nge-share apa yang sedang lo lakukan dan lokasi lo lagi ada di mana.

Dan tergantung dari tipe follower lo juga, mungkin lo harus lebih hati-hati dengan foto apa yang lo post. Is it too sexy? Will it become a meme? Lol! Karena kalau gue pribadi, gue ogah banget kalau sampai muka gue dijadikan meme dan nongol di mana-mana. Lain halnya kalau lo orang yang dengan senang hati jadi tenar dengan cara jadi meme di mana-mana. Haha!

In the end, semuanya balik lagi ke diri kita sendiri. Karena social media itu seperti koran instan yang bisa dibaca semua orang kapan aja. Dan jangan lupa, apa yang lo post di social media, akan ada di sana selamanya. (Teringat kemarin gue baru aja nge-post #10yearschallenge dan gue langsung pergi ke Facebook buat cari foto gue 10 tahun yang lalu. It’s still there after 10 years! Geez! Resourceful and a bit creepy at the same time. 😆)

So, be wise with your social media. Dan kalau lo punya poin lain yang perlu ditambahkan dari artikel di atas, langsung aja tinggalin komentar di bawah ya. 😉

Thanks for reading this.

Spread love,

hiLda

Leave a Reply