Love My Self

Loving my own self has been given a very bad reputation.

Kalau gue bilang: “Gue cinta diri gue sendiri,” biasanya yang langsung dijawab sama orang lain adalah: “Egois lo!”

Loh, emangnya orang yang cinta sama diri sendiri selalu adalah orang yang narcis kah? Apakah mencintai diri sendiri itu salah? Apakah mengutamakan kebutuhan diri sendiri di atas kebutuhan orang lain adalah hal yang egois?

Dulu gue belajar ini di PPKn. Dalam bab yang judulnya “Toleransi”. Bahwa kita harus lebih mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan diri kita sendiri. Ini adalah nilai moral yang Indonesia banget. Dan adalah hal yang bagus banget ketika memang kepentingan umum yang menyangkut hajat hidup orang banyak lebih tinggi prioritasnya daripada kepuasan diri kita sendiri. Masalahnya, begitu mengakarnya nilai ini dalam diri gue, kadang gue mengaplikasikannya di saat-saat yang gak tepat. Saat-saat yang bikin keinginan gue untuk jadi manusia yang toleran malah berbalik arah menyerang gue seperti boomerang.

 

Kisah Seorang Keset

“Eh gue butuh bantuan nih. Lo bisa bantuin ga?”
“Boleh.”
“Tapi gue gak bisa kasih apa-apa sebagai imbalannya.”
“Gak apa-apa. Tenang aja. Gue akan tetap bantu.”
“Makasih ya. Tenang aja nanti kalau gue udah bisa, gue pasti bagi ke lo.”
“Gak apa-apa. Santai aja. Gue bantuin.”

Setahun kemudian sejak percakapan ini, orang yang gue anggap teman itu tetap mengharapkan bantuan gue tanpa ada rasa respect sama sekali. Karena bantuan gue datang secara reguler, dia menganggap bantuan itu bukan sebuah favor lagi. He took it for granted. And forgot that I exist. Ouch!

Bukannya gue mengharapkan imbalan duit ya. Tapi ada rasa nyelekit di dada ketika orang yang udah susah payah gue bantuin malah cuekin gue doang dan nagih-nagih doang kayak bos gue aja. Simple, if you don’t pay me, you’re not my boss. So please at least have some respect.

Dan ketika hal ini terjadi, yang gue lakukan adalah memalingkan wajah dan berhenti bantuin dia. You will not know how hard that is for me. I’m used to be a doormat. I’m used to be treated like a doormat. Dalam hati kecil gue yang terdalam, gue lebih memilih dijadiin keset daripada harus kehilangan seorang teman. Seperti yang udah gue ceritain di artikel sebelumnya (– yang bisa lo baca di sini), gue terbiasa jadi people pleaser. Jadi ketika ada orang yang kecewa sama gue, gue akan merasa sangat bersalah. Gak peduli kekecewaan itu layak dia rasakan atau enggak.

Lalu apa yang terjadi? Broken relationship. Disappointment. Gue kehilangan satu orang teman.

Sedih? Iya. Tentu aja. Tapi dengan tekad yang kuat untuk belajar mencintai diri gue sendiri, gue tetap teguh pada pendirian gue untuk enggak balik merangkak ke orang itu.

If you don’t respect me, I have to let you go. I’m sorry, but I no longer allow myself to be a doormat. This has become a toxic relationship so it must end. No matter how hard it is, I have to let you go. Bye!

 

Basic Instinct

Mencintai diri sendiri seharusnya terjadi secara alami.

Kalau gue perhatiin anak gue yang masih bayi, gak pernah tuh dia gak nangis dan cari perhatian gue kalau dia butuh sesuatu. Kenapa? Bukan karena dia manja. It’s a matter of survival for her. So she has to cry for the sake of herself.

Buat kita mungkin absurd. Yaelah, ditinggal sebentar aja kok nangisnya heboh bener sih. Mommy cuma jarak 5 langkah loh padahal.

Tapi buat dia yang baru belajar tentang dunia, sendirian di ruangan yang besar (– buat dia), jauh (– buat dia) dari orang yang bisa bantuin dia adalah sangat menakutkan. Makanya dia nangis sejadi-jadinya supaya gue balik ke dekat dia. Supaya dia tahu dia aman. Supaya dia tahu dia gak sendirian. Because she needs me.

It’s her way of loving herself. By not allowing her caregiver to leave her. Because she needs it. (But more on that later when I talk about motherhood. Stay tune.)

Anyway, kalau hal ini seharusnya sudah tertanam dari sejak kita masih bayi, kenapa malah seiring kita bertumbuh dewasa insting ini malah semakin tumpul bukannya semakin tajam? Kenapa setelah kita dewasa kita malah cenderung membiarkan orang lain menyakiti kita? Kenapa setelah kita dewasa kita malah lebih menyepelekan kesehatan diri kita sendiri, baik mental maupun fisik?

Menurut gue (– and this is purely my opinion, feel free to correct me if I’m wrong), balik lagi karena “loving my own self has been given a very bad reputation”. Orang yang mencintai dirinya sendiri dianggap egois, bahkan narcis.

Let me tell you something. It’s NOT.

Orang egois adalah orang yang memaksakan kepentingan dirinya sendiri meskipun kebutuhan orang banyak tergantung pada dirinya. Dia lebih memilih kenyamanannya daripada kesejahteraan orang banyak.

Apakah orang yang mencintai dirinya sendiri itu egois? Menurut gue enggak. Asalkan dia tahu batasan di mana cinta akan dirinya sendiri beririsan dengan kesejahteraan orang banyak, dan dia bersedia menunda kenyamanannya demi hal itu.

Apakah orang yang mencintai dirinya sendiri itu narcis? Simply NOT. Karena ada perbedaan yang sangat besar antara cinta dan obsesi. And obsession is never healthy.

 

Simple and Logical

You cannot give what you don’t have.
It is simple and logical.

How can you expect to love someone else if you don’t love yourself first?
How can you expect to be loved by someone else if you don’t know how to love your own self first?

Cuma kita yang tahu gimana cara terbaik untuk mencintai diri kita sendiri.
Cuma kita yang bisa kasih tahu orang lain gimana caranya untuk mencintai kita.

Dengan mencintai diri kita sendiri, kita membuat sebuah pagar. Pagar itu ada untuk memisahkan mereka yang ngerti gimana cara mencintai kita sesuai dengan cara yang kita mau dan mereka yang gak ngerti bahwa kita layak dicintai.

Dan kita gak akan pernah bisa bikin orang lain tahu bahwa kita layak dicintai kalau kita enggak terlebih dahulu memahami bahwa kita layak dicintai.

Loving my self is a good thing.
Loving my self is nourishing my soul.
And it makes me happy.
I hope it can make you happy too.

 

Spread love,

hiLda

Leave a Reply