He Is Just A Man

Ada banyak ocehan belakangan ini tentang seorang sosok yang telah menjadi panutan banyak orang. Beliau membela apa yang benar di matanya. Beliau bersikap begitu ksatria hingga kita pun terpesona akan kekukuhan hatinya. Beliau begitu langka, hingga kita kira orang seperti beliau ini sudah tidak ada lagi di dunia.

Tapi setelah serangan bertubi-tubi, kini dia seakan berubah menjadi orang lain. Dia minta dipanggil dengan nama yang lain. Dia juga bersikap seolah-olah bukan dirinya yang dulu lagi. Banyak yang kecewa kepadanya. Dan mereka pun angkat kaki dari golongan pendukungnya.

Apakah salah? Kalau memang salah lantas siapa yang salah? Salah diakah dirinya berubah? Atau salah pendukungnya kah yang angkat kaki?

Stop! Let’s Think…

Eh, coba dipikir lagi deh. Memangnya apa sih yang dia lakukan belakangan ini sampai-sampai bikin banyak orang ilfeel? Setelah pertarungannya yang hebat dan memukau banyak orang, dia masuk bui. Di dalam bui dia tertimpa petaka sehingga memutuskan untuk bercerai. Setelah keluar dengan jaya, dia mendeklarasikan pasangan barunya yang enggak seiman dan berumur jauh lebih muda. Lalu banyak orang yang menghujatnya. Menganggap dia bukan lagi sosok sempurna yang layak dijadikan panutan.

Eh, coba diteliti lagi deh. Memangnya yang dia lakukan bukan hal yang biasa yang dilakukan oleh semua orang? Berapa banyak orang yang bermasalah rumah tangganya, lalu bercerai, lalu memutuskan untuk menikah lagi? Jawabannya: jutaan!! Lalu kenapa kalau hal itu dilakukan oleh si Bapak kalian malah jadi baper?

Gak seiman? Ya sudah lah, itu urusan dia. Gak satu ras? Ya sudah lah, anak ras campuran biasanya memang lebih cantik atau ganteng toh. Gak sepantaran umurnya? Coba dihitung berapa banyak film Hollywood yang bilang kalau cinta enggak pandang usia.

Intinya: Apa yang dia lakukan dengan kehidupan pribadinya, itu adalah urusannya. Apa dengan memiliki hidup yang enggak sempurna di mata orang banyak akan membuat si Bapak jadi kurang kompeten dalam sepak terjangnya? Gue rasa sih enggak ya. Tapi siapa lah gue ini, cuma orang biasa yang gak bisa ngeramal masa depan. Pada akhirnya, cuma waktu yang bisa membuktikan segalanya. Apakah memang si Bapak ini sudah berubah, atau dia masih tetap manusia yang sama, atau bahkan sudah berubah menjadi lebih bijaksana setelah masa tahanannya.

Just A Thought

Gue cuma bisa kasih saran. Jangan mendewakan si Bapak ya. Kasihan… Dia cuma manusia biasa. Dia layak diizinkan memiliki kehidupan yang normal. Dia layak diizinkan memiliki kelemahan. Dan dia juga layak diizinkan memilih jalan hidupnya sendiri yang terbaik bagi dirinya. Bukan menjalankan hidupnya untuk memuaskan keinginan para pengikutnya. Karena kalau sampai dia tetap menjalankan kehidupan “sempurna” padahal di dalamnya keropos, bukankah dia sama saja dengan seorang penipu? Hypocrite! Semacam orang yang gue yakin si Bapak sendiri bakal benci dan dia perangi dengan sekuat tenaganya.

Terakhir nih, gue juga cuma bisa kasih usulan. Kalau lo ngerasa baper karena segala tindakannya yang kurang berkenan di hati lo, coba dipikirin lagi deh. Apakah lo memandang si Bapak sebagai manusia atau dewa? Kalau lo sadar dengan sepenuhnya bahwa dia hanya seorang manusia biasa, lo gak perlu baper karena dia enggak lagi kelihatan sempurna. Sebaliknya, lo seharusnya ikut bahagia, karena sang idola sudah menemukan kebahagiaan di dalam hidupnya yang keras dan penuh peperangan. Dan sebaiknya kita ikut mendoakan aja supaya kehidupan pribadi yang dipilihnya ini bisa ikut mendukung aksinya yang berikutnya di kancah perpolitikan.

Just be happy for him. Because he is just a man. And just wait and see what comes next.

Thanks for reading this.

Spread love,

hiLda

2 Comments

Leave a Reply