Jingga

Semua orang yang melewati jalan itu menatapnya dengan tatapan sedih, iba atau memelas. Sementara matanya menerawang jauh menatap ke langit. Seperti sebuah selongsong kosong yang tidak berjiwa.

Beberapa uang receh dilemparkan orang ke kakinya. Konyol. Seolah-olah sekeping logam bisa membuat dia kembali ke dunia nyata. Nyatanya, dia telah lama dibungkam oleh dunia. Suaranya tidak lagi berbentuk kata-kata. Hanya sebuah lamunan semu yang menemani hari-harinya sekarang.

Tidak ada yang tahu dari mana dia berasal. Seorang gadis kecil dengan rambut kumal. Kulitnya gelap karena terbakar matahari dan kotoran yang menempel selama berbulan-bulan. Dia duduk di tepi jalan itu setiap hari dengan kaki telanjang. Entah apa yang dia tunggu. Mungkin ibunya yang meninggalkan dia di sana dulu. Atau mungkin ayahnya yang tidak pernah dia kenal sedikit pun. Keduanya hanya pernah datang kepadanya di dalam lamunannya saja.

Matahari yang terik menyinari rambutnya yang hitam. Dia sama sekali tidak menyadari hiruk pikuk yang terjadi di sekitarnya. Pria-pria berseragam yang berkeliaran di sekitarnya sejak satu jam yang lalu. Mengangkat gerobak-gerobak dan membongkar warung-warung tenda yang berdiri di kanan dan kirinya.

“Ini anak siapa? Bahaya kalau dia di sini. Nanti kena sesuatu lagi,” ujar seorang pria berkumis.
“Dia enggak pernah mau pergi dari situ, Pak. Enggak tahu anaknya siapa,” ujar pria yang lain.
“Waduh bagaimana ini. Kita bawa ke dinas sosial saja.”
“Tunggu, Pak. Kasihan. Dia masih di bawah umur. Kalau dibawa pergi begitu saja bisa nangis,” sergah seorang lelaki muda berseragam.
“Habis mau gimana lagi? Sebentar lagi kita sudah harus pergi dari sini.”
“Biar saya yang bicara sama dia, Pak. Nanti saya yang antarkan dia ke kantor dinas sosial.”

Pria berkumis itu mengungkit tentang padatnya jadwal mereka hari itu. Dia enggan mengizinkan lelaki muda itu berleha-leha sedikit pun. Namun sepertinya dia tidak bisa melawan kekeraskepalaan lelaki itu. Dia menyerah. Mengajak pria-pria yang lainnya pergi dari sana. Meninggalkan lelaki muda itu sendirian.

“Halo!” sapa lelaki itu.

Gadis kecil itu tidak menggubrisnya. Dia bisa mendengar suara berat lelaki itu yang ramah. Dia mengerti bagaimana dia harus membalas sapaan itu. Tapi seluruh tubuhnya enggan bergerak sedikit pun. Bahkan mengalihkan pandangannya kepada lelaki itu pun dia tidak mau.

Lelaki itu merogoh ke dalam sakunya. Lalu mengacungkan sebungkus permen ke depan mata gadis kecil itu.

“Mau permen?” tanyanya.

Serta merta dia mengambil permen itu dan memakannya dengan lahap. Matanya menatap mata lelaki itu untuk pertama kalinya.

Ah! Ini sudah sering terjadi. Nanti juga, sebentar lagi, orang ini akan pergi, pikirnya dalam hati.

Namun lelaki itu tidak pergi. Dia duduk di atas semen yang kotor itu dan menatap mata gadis kecil itu dengan tulus.

“Kamu suka permen? Kalau kamu suka, nanti Kakak belikan lagi. Yuk, kita pergi dari sini.”

Tangan lelaki itu terjulur ke depan. Seperti sebuah ajakan untuk pergi dari dunia khayalan kesayangannya. Dia ragu-ragu. Tangan itu. Tangan orang dewasa. Seperti tangan ibu yang melepaskan genggamannya di sini dulu. Baik kah jika dia menggenggam tangan orang dewasa seperti ini lagi? Mungkinkah nantinya genggaman tangan itu dilepaskan lagi dan dia ditinggalkan sendirian lagi?

Lelaki itu menatapnya dengan penuh keyakinan. Wajahnya terlihat hangat. Lagipula dia terlihat gagah dengan seragamnya. Akhirnya gadis kecil itu mengulurkan tangannya dan menyambut ajakan itu. Dia bangkit dari kertas kardus kumal yang menjadi tempat duduknya selama ini. Berjalan beriringan bersama seorang lelaki ramah yang tidak dia kenal.

Mereka mampir di sebuah warung tidak jauh dari situ, warung yang tidak terkena penggusuran. Lelaki itu membelikannya sebuah permen loli dan air minum. Mereka duduk di sana sementara gadis kecil itu menjilati permen lolinya dengan riang.

“Kamu tidak boleh tinggal di sana lagi ya,” perintah lelaki itu kepadanya, “Kakak akan bawa kamu ke tempat tinggal baru yang lebih sehat.”

Gadis kecil itu berhenti menjilati loli-nya. Dia menunduk dengan sedih.

“Hei! Kamu kenapa? Kamu tidak mau pergi dari sana?”
Dia menggeleng.
“Tapi tempat itu tidak baik buat kamu. Kamu perlu tempat tinggal yang sehat untuk bisa tumbuh dengan baik. Kenapa kamu tidak mau pergi?”
“Ibu bilang tunggu,” jawab gadis kecil itu singkat dengan suaranya yang serak.
“Ibu kamu ada di mana?”
Dia mengangkat kedua bahunya.

Lelaki itu menghela nafas. Orang macam apa yang tega melakukan hal semacam ini kepada seorang gadis kecil tidak berdosa. Dia berpikir keras. Memutar otak. Mencari cara yang indah untuk memberitahukan kenyataan yang pahit kepada gadis kecil ini.

Tidak ada. Tidak ada apapun yang bisa dikatakan untuk bisa menerjemahkan kekejian dunia ini kepada otak seorang gadis kecil. Bila kenyataan terlalu pahit, apa lagi yang bisa menggantikannya? Apa? Apa?

“Baiklah. Begini saja. Daripada kamu menunggu terus-menerus, lebih baik kamu meninggalkan pesan untuk ibumu di sana. Jadi ketika ibumu kembali, dia akan tahu kamu ada di mana. Kamu tidak perlu takut ibumu tidak bisa menemukanmu. Bagaimana?”

Wajah gadis kecil itu dipenuhi dengan sukacita. Dia mengangguk dengan sangat bersemangat. Lalu mereka membeli sebuah cat kecil dan kuas. Berjalan kembali ke tempat itu. Memungut serpihan kardus kumal bekas alas duduk itu. Dan mulai menggambar.

“Kamu suka menggambar apa?” tanya lelaki itu.
“Matahari!” jawab gadis kecil itu bersemangat.
“Baiklah! Kamu gambar matahari di sini ya. Ibu kamu kan tahu itu gambar buatan kamu. Jadi dia pasti tahu kamu terus menunggu dia di sini. Gimana?”

Anak itu mengangguk setuju. Dengan bersemangat dia menggambar sebuah matahari berwarna merah di kertas kardus itu.

“Matahari itu warnanya bukan merah, tetapi jingga. Sini Kakak betulkan.”

Lelaki itu mengangkat kuasnya, lalu mencelupkannya di cat berwarna kuning. Dia membaurkan cat kuning itu dengan cat merah berbentuk matahari buatan anak itu. Menghasilkan sebuah matahari jingga yang indah.

Anak itu tertawa puas. Tawa pertama yang dikeluarkannya sejak berbulan-bulan yang lalu. Mereka menggantungkan potongan kardus itu di dahan sebuah pohon di dekat sana.

Anak itu bahagia. Dia tidak tahu bahwa gambar matahari jingga itu tidak berarti apa-apa. Dia tidak mengerti bahwa sekalipun ibunya kembali ke sana, matahari jingga itu tidak akan mampu menuntunnya kembali kepadanya. Yang dia tahu hanyalah bahwa matahari jingga itu adalah sebuah harapan. Sebuah keyakinan yang tersimpan bahwa suatu hari nanti dia bisa kembali bertemu dengan ibunya.

Angin berhembus tenang. Menggoyangkan potongan kardus itu ke kiri dan ke kanan. Seorang gadis kecil menaiki sebuah mobil patroli yang dikemudikan oleh seorang lelaki muda yang ramah. Mereka melaju ke sebuah kantor dinas sosial.

Pria itu turun dari mobil. Lalu membukakan pintu mobil untuk gadis kecil yang duduk di sampingnya. Mereka masuk ke kantor itu bergandengan tangan. Seorang wanita petugas menyerahkan sepotong kertas formulir kepada lelaki itu. Dia mengisinya dengan teliti.

“Siapa nama kamu?” tanya lelaki itu kepada gadis kecil itu.
Dia memutar matanya sedikit. Lalu dengan tersenyum lebar dia menjawab.
Jingga.

Sekalipun dia tahu, sebenarnya dia memiliki nama yang lain.

Spread love, not hatred…

hiLda

*) Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Kesamaan nama, tempat atau peristiwa hanyalah kebetulan semata.

Leave a Reply