What Any Girl Should Learn from Princess Jasmine

Ada banyak banget alasan buat lo nonton film yang satu ini. Ya, ini adalah film live action terbaru besutan Disney yang berjudul Aladdin. Film yang bertemakan negeri Agrabah di tanah Arab ini sangat memukau dari bayak segi. Mulai dari musiknya, para aktornya yang berkulit coklat, sampai ceritanya yang everlasting sejak pertama kali film ini dirilis tahun 1992 dalam bentuk animasi. Tapi ada satu hal yang paling menonjol buat gue dari film ini. Dia adalah sang putri dari Sultan Agrabah, Princess Jasmine.

Ada banyak banget good quality dari sang princess. Dia cantik, punya sense of fashion yang keren, strong willed, dan seperti para Disney Princess lainnya, dia suka membuat perubahan dan menentang tradisi. Tapi ada beberapa kualitas yang menurut gue bikin Jasmine lebih menonjol daripada Disney Princess lainnya. Dan kualitas-kualitas inilah yang menurut gue patut kita contoh dan kita ajarkan pada anak-anak perempuan kita. Apa aja hal-hal itu? Check this out.

1. She Is A Royal from The Start Yet Very Humble
Jasmine vs. Cinderella

Untuk yang satu ini gue mau bandingin Jasmine sama Cinderella. Cinderella berasal dari keluarga kaya, tapi jatuh miskin setelah kematian sang ayah. Meskipun kaya, Cinderella adalah gadis yang rendah hati dan baik kepada semua orang. Sebuah nilai mulia yang patut dihargai.

Namun, meskipun hal ini cukup banyak ditemukan dalam kalangan masyarakat biasa, untuk melihat hal ini muncul dalam karakter Jasmine yang adalah seorang Putri sebuah Kerajaan yang kaya raya, adalah sesuatu yang langka. Cinderella bisa jatuh miskin karena ayahnya meninggal dan tidak bisa lagi memberikan nafkah bagi keluarganya. Tapi dengan tingkat kekayaan seperti Jasmine, meskipun sang Sultan meninggal pun dia enggak akan pernah jatuh miskin. She is extremely wealthy. And to see that she is still very humble in spite of that is very admiring.

Apalagi waktu Jasmine diam-diam menyelinap keluar istana untuk pergi ke pasar dan melihat rakyatnya. Kalau aja dia enggak melanggar hukum waktu melakukannya, gue yakin rakyat akan datang mendekat ke dia dan selfie bareng deh. Kayak waktu Pak Jokowi blusukan ke desa-desa aja.

What we should teach our daughter: Sesukses apapun kamu nanti di masa depan, jangan pernah melupakan orang-orang kecil yang enggak berdaya. Dan yang paling penting, jangan pernah menganggap dirimu paling layak, paling hebat, atau paling bernilai hanya karena banyaknya hartamu. Bukan banyaknya harta yang mengukur seberapa kaya seseorang sebenarnya, tapi banyaknya teman yang tetap tinggal di sisimu bahkan di masa sulitmu.

2. She Desires Freedom Even Though She Is In A Powerful Position
Jasmine vs. Elsa

Meskipun kaya raya, enggak bikin Jasmine jadi bisa memiliki segalanya. Berbeda dengan para pangeran di cerita Disney lainnya, Jasmine yang adalah seorang putri kerajaan enggak punya kebebasan karena dikungkung di dalam istananya oleh ayahnya. Padahal dia sangat cerdas dan memiliki cinta yang besar untuk rakyatnya. Tapi dia enggak bisa menunjukkannya karena dia terpenjara dalam sangkar emasnya.

Berbeda dengan Elsa yang, sebelum konfliknya dengan Anna di film Frozen, merangkul sangkar emasnya dengan sukarela, Jasmine amat sangat membencinya. Dia ingin bebas. Dia ingin pergi dan melihat dunia luar. And, damn, she did it! Dia dengan sengaja mengendap-endap untuk keluar dari istana dan enggak sengaja bertemu dengan Aladdin di pasar. Sejak awal, dia memiliki keteguhan hati itu. Dan dia berusaha untuk mendobrak segala aturan kuno itu dengan kedua tangannya sendiri.

Kalau Elsa memahami kekuatan besar yang terpendam dalam dirinya lebih awal dan membebaskan dirinya dari kekangan yang dia rasakan, mungkin segala konfliknya dengan Anna enggak perlu terjadi. Tapi berbeda dengan Jasmine, dia sadar bahwa dia ingin bebas. Meskipun enggak punya kekuatan sebesar kekuatan Elsa, dia tetap berusaha membebaskan dirinya. Ini kekuatan yang besar menurut gue. Karena kekuatan ini enggak pudar walaupun dia hanya sendirian.

What we should teach our daughter: Jangan mencintai penjaramu seberapa nyamannya pun penjaramu itu. Seorang wanita bukanlah sebuah hiasan dalam sangkar emas. Kecantikan kita diciptakan untuk mewarnai dunia. Maka mana mungkin kita bisa mewarnai dunia bila kita terkurung di dalam sebuah penjara? Penjara itu enggak harus bersifat fisik. Penjara itu bisa juga berada di dalam pikiranmu. Ketika kamu merasa dirimu enggak layak atau kalah hebat hanya karena kamu seorang wanita.

3. She Breaks The Tradition of An Entire Nation With A Smart Ways
Jasmine vs. Merida

Satu hal yang paling dibenci Jasmine dari tradisi kuno di kerajaannya adalah bagaimana seorang putri harus menikah dengan seorang pangeran yang memberikan keuntungan bagi kerajaan. Dia enggak bisa menikah karena cinta. Dia harus menikah demi negerinya. Sebesar-besarnya rasa cintanya kepada negerinya, hanya satu hal ini yang paling enggan dia lakukan. Makanya dia selalu berusaha menolak perjodohan yang diatur oleh sang Sultan dengan cara yang halus.

Merida, salah seorang Disney Princess dari film Brave juga melakukan cara yang sama. Bedanya, dia melakukannya dengan cara yang kasar yang hampir memicu perang antar clan di negerinya. Berbeda dengan Merida, cara yang Jasmine pakai untuk menolak perjodohan itu adalah dengan membuktikan lagi dan lagi betapa besar kualitas yang dimilikonya sebagai seorang pribadi. Dia menunjukkan bahwa dirinya lebih daripada hanya sebuah paras cantik dan alat politik. Dia menunjukkan kecerdasannya, kemampuannya berpolitik, dan opini-opininya dengan berani.

Caranya yang lembut namun tegas ini akhirnya dapat menggerakkan hati sang Sultan untuk mengubah tradisi kunonya. Hingga akhirnya dia mengizinkan Jasmine untuk naik takhta menjadi Sultana dan menikah dengan Aladdin yang adalah cinta sejatinya.

What we should teach our daughter: Kita enggak bisa mengubah dunia di sekeliling kita hanya dengan menjentikkan jari. Ada pandangan-pandangan kolot yang akan terus menghantui kamu nanti ketika kamu sudah dewasa. Jangan menyerah untuk memperjuangkan apa yang menurutmu layak diperjuangkan. Dengan cara yang lembut dan tegas, ubahlah pandangan mereka sedikit demi sedikit supaya generasi penerusmu enggak perlu merasakan apa yang kamu rasakan.

4. She Rise to Become The Most Powerful Person, Not Just Some Sidekick for Some King
Jasmine vs. Belle

Di akhir film ini, Jasmine diangkat menjadi penerus sang Sultan oleh ayahnya sendiri. Meskipun dia seorang perempuan, dan Sultana bukanlah sesuatu yang lazim di Agrabah, sang ayah akhirnya bisa melihat semua kekuatan Jasmine dan menganggapnya layak untuk jadi penerusnya. Dia naik dari seorang putri menjadi seorang ratu bukan karena menikahi seorang pangeran. Tapi karena kekuatan dalam dirinya sendiri. Karena dia membuktikan dirinya layak untuk menjadi seorang pemimpin bukan hanya karena menikahi seseorang yang tepat.

Berbeda dengan Belle yang berubah dari nobody jadi somebody setelah menyelamatkan Beast. Meskipun dia telah melakukan hal yang luar biasa, mencintai seofang buruk rupa, Belle tetap berakhir “becoming sombody’s accessory”. Belle mungkin hidup bahagia dengan Beast di kastilnya yang megah. Tapi pada akhirnya dia tetap enggak bisa membuat banyak perubahan bagi rakyatnya setelah menghancurkan kutukan yang menimpa Beast. Impact yang bisa dia berikan hanya sebatas itu saja. Gak bisa lebih.

Sedangkan di cerita Jasmine, dia berakhir menjadi pemerintah di negeri yang dicintainya sebagai seorang penerus yang membuktikan dirinya layak mengemban tugas yang berat itu. Bukan hanya masalah kedudukan aja, tapi dengan kekuatan itu, dia pasti bisa membawa lebih banyak impact buag orang-orang yang dipimpinnya. So, it’s kinda cool, don’t you think?!

What we should teach our daughter: Kamu enggak perlu menemukan seorang pangeran untuk membuktikan kelayakan dirimu. Kamu hebat dan cantik apa adanya sebagai dirimu sendiri. Jangan memberikan nilai kepada dirimu dari seberapa hebat pasanganmu nanti. Kalian adalah pribadi yang bebeda yang punya keunikan masing-masing. Jadilah dirimu sendiri. Jangan hanya jadi seorang pendamping. Karena kamu jauh lebih berharga daripada itu.

Anyway, ada satu hal lagi yang gue suka banget di film Aladdin versi live action ini. Karakter Jasmine memang diubah sedikit daripada versi animasinya di sini. Tapi perubahan itu cukup signifikan dan mewakili aspirasi para wanita modern jaman sekarang.

Kalau di film versi animasi Jasmine enggak punya lagu solo sama sekali. Tapi di film versi live action, Jasmine dikasih sebuah lagu solo yang menurut gue powerful banget dan gue suka banget. Lagunya berjudul “Speechless” dan ini menggambarkan betapa kuatnya tekad Jasmine untuk mendobrak tradisi yang mengungkungnya. Dengerin lagunya di bawah ini ya.

Gimana menurut lo tentang Jasmine? Ada gak hal-hal lain dari karakternya yang belum gue bahas di sini? Tinggalin komentar di bawah ya.

Thanks for reading this.

Spread love,

hiLda

Leave a Reply