The Cycle of Being In Love

Gue kasih tahu ya gimana rasanya. Ketika memeluk selimut kecil yang lembut berisi seorang makhluk kecil yang lemah dan lucu itu. Seketika gerakan tangannya yang kecil bikin gue jatuh hati. Matanya tertutup seakan dia bermimpi indah. Tapi bahkan ketika gue enggak bisa menatap bola matanya, mata itu tetap bikin gue jatuh hati.

I fell hard. So hard. I was falling in love again after a long, long time.

Dalam sekejap mata, selimut kecil itu udah enggak muat lagi membungkus tubuhnya. Seolah baru berkedip beberapa saat, dia sudah jadi begitu besar. Lari ke sana kemari dengan kedua kakinya sendiri. Menolak untuk digendong dan dipeluk seperti yang dulu selalu dia minta waktu dia lagi sedih atau kesepian. Dia udah bisa bilang “No!” dengan keras. Dia udah bisa menunjukkan keinginannya dan gue udah enggak bisa ngatur hidupnya lagi sesuka hati gue. Segalanya harus dibicarakan dengan baik-baik. Dibujukin. Ditawar. Dinegosiasikan.

Capek. Pasti. Tapi karena dia kesayangan, setiap kali gue dipeluk, rasa capek itu kayak hilang begitu aja. Gak terasa lagi. Bahkan ketika badan pegal karena gak bisa istirahat, rasanya semuanya tetap hilang dengan satu kecupan sayang tanda terima kasih dari bibirnya yang mungil.

Ya ampun, Neng. Kok waktu kayaknya lari ya. Apa yang terjadi kalau nanti kamu udah gede, mau pergi kuliah ke luar, dan Mommy gak bisa ketemu kamu lagi setiap hari? Mommy pasti kangen banget! Mommy gak kebayang gimana sedihnya hati Mommy nanti waktu ngelepas kamu pergi.

Kamu yang sekarang kalau mau tidur aja minta dipeluk dulu. Kamu yang kalau digigit nyamuk aja laporan sama Mommy. Kamu yang kalau suka makan masakan Mommy bisa makan sambil joget-joget bikin gemes. Aduh. You’re so precious. How can I ever let you go?

Tanpa sadar hati jadi termehek-mehek. Lalu mata gue basah dengan air mata yang menggenang.

Ah, jangan cepat-cepat besar lah, Neng. Mommy belum puas.

Tapi tahu apalah Mommy. Mommy cuma seorang mamak milenial yang lagi nonton ending-nya Toy Story 3. Dan tanpa sadar malah jadi mewek gara-gara ngelihat adegan Andy yang harus berpisah sama Woody. Ah, cengeng bener ya Mommy-mu ini, Neng.

Lalu, gak lama kemudian, si kecil pun ngadat lagi. Mogok tidur siang dan nangis jerit-jerit gara-gara gak boleh main. Dan seketika itu juga, Mommy menyesal udah mewek gara-gara nonton Toy Story 3. How can this small body contains this much power? And how can she shout so loud it hurts my old ears?! Dari seorang malaikat kecil dia berubah jadi monster kecil hanya dalam hitungan menit. OMG!! 😑

Ya begitulah kehidupan seorang ibu. A Mom’s Life.

Being in love to be heartbroken. And being heartbroken to be falling in love again. And the cycle goes on and on and on. Again and again. And what’s even crazier is that I enjoy it. It’s crazy. But it’s true.

Gak percaya sama kata-kata gue? Coba dulu jadi seorang ibu. Maka mungkin nanti lo bakal setuju sama kegilaan gue. Hehe… 🤣

Spread love,

hiLda

Leave a Reply