Wanna Be An Influencer?

Lo doyan update segala hal tentang hidup lo di social media. Lo jago ngambil foto yang kece atau bikin vlog yang keren. Plus content lo banyak dapat like dari orang banyak. Terus apa? Masa mau gini-gini aja? Pasti pengen dong ngikutin jejak orang-orang yang bisa sukses lewat social media. Membayangkan kerjaan yang santai dan dapat duit banyak dengan mudah. Siapa yang gak pengen? Ya kan!

Eits… Tunggu dulu.

Influencer? Sounds Like Influenza!

Yes it is! In fact, they are more or less the same thing.

Influenza disebabkan oleh virus dan mudah banget menular lewat udara. Kayak kalau gue lagi sakit flu, suami dan anak gue dengan mudah ketularan karena kita tinggal satu rumah dan suka sharing makanan.

Influencer kurang lebih seperti virus flu sebenarnya. Karena begitu sang influencer nge-post sesuatu di social media-nya, para follower setianya akan langsung nge-like, ngikutin, atau membeli barang yang dipakai olehnya. Makanya influencer itu sangat menggiurkan buat para pelaku bisnis zaman sekarang. Ngapain lagi bayar mahal-mahal buat pasang iklan di billboard pinggir jalan kalau mereka bisa keluar duit yang jauh lebih sedikit untuk nge-endorse seorang influencer yang punya akses langsung ke pasar?! Logis kan.

Masalahnya, layaknya sebuah virus, influencer bisa dengan mudah menularkan segala hal. Yang baik juga yang buruk. Jadi ketika seorang influencer salah nge-post sesuatu, salah ngomong atau nge-publikasiin hal yang gak bener, dengan mudah orang-orang akan terpengaruh dan memberikan efek yang buruk terhadap masyarakat. Makanya, menurut gue, ketika seseorang sudah menjadi seorang influencer, social medianya bukan lagi jadi ranah pribadi. Melainkan jadi ranah publik. Layaknya media cetak atau elektronik.

Jadi, karena audience-nya sudah sangat banyak, seorang influencer enggak bisa lagi bilang: “Ini Instagram gue! Suka-suka gue mau nge-post apa!”

Erm… Sorry! Apa yang lo tulis sudah jadi makanan khalayak ramai. Artinya, lo sudah selayaknya mengerti dan mengaplikasikan kode etik jurnalistik. Karena itulah etika yang harus dipegang ketika lo sudah masuk ke ranah publik.

The World In Your Hands

Bayangkan kalau Oprah bilang ke para penontonnya bahwa ini adalah hari terakhir bumi berputar mengelilingi matahari. Besok bumi akan kiamat. Sengaco-ngaconya content yang dia omongin, kalau itu adalah Oprah, para pendukung setianya pasti akan ada yang percaya juga. Anggaplah cuma 1% dari follower-nya yang percaya. Sekarang ini Oprah follower-nya 15,6 juta. 1% dari 15,6 juta itu 156 ribu orang. Kalau ada 156 ribu orang yang percaya besok bumi akan kiamat, apa enggak akan jadi kerusuhan tuh? Belum lagi kalau 156 ribu orang ini mempengaruhi orang-orang sekitarnya untuk percaya juga bahwa besok bumi akan kiamat. Coba aja dihitung dampaknya akan jadi berapa banyak.

Sama dengan berita hoax yang sempat jadi heboh di negara kita. Berita hoax itu enggak dimulai dari tempat yang ramai. Berita hoax dimulai dari bisikan-bisikan di antara beberapa orang yang menyebar sampai ke jutaan orang. Karena enggak ada yang bisa memverifikasi asal muasalnya, dengan mudah berita hoax itu dipercaya oleh banyak orang. Sampai akhirnya dirasa jadi kenyataan karena begitu banyak orang yang percaya. Seberapa besar dampak kerusakan yang bisa ditimbulkan oleh berita hoax? Well, warga Jakarta pasti udah ngerasain sendiri akibatnya. Hehe…

So, para influencer baik hati yang ada di luar sana, segitu besarnya loh kekuatan yang kalian punya di tangan kalian. Jangan pikir jadi influencer tuh cuma sekedar pake baju kece, post foto cantik dan dapat banyak like.

What you say matter. What you do matter. What you like become something that someone else will like. What you buy become something that someone else will want. Are you guiding them to the right direction? You should know, and realise, that that become your responsibility.

Great Power Comes With Great Responsibility

That’s what Spiderman said. And it’s true! It’s profound!

Kalau lo bercita-cita jadi influencer, jadilah influencer yang baik. Yang tahu apa yang dia lakukan. Yang melakukannya dengan dampak yang positif buat orang-orang yang mengikutinya.

Jangan jadi influencer yang kayak virus flu. Bikin penyakit dan keributan di tempat yang dia kunjungi. Ya, mungkin dengan bikin keributan lo bakal dapat banyak clickbait dan viewer. Tapi dampak yang lo hasilkan enggak akan pernah positif. Apakah itu yang lo mau? Apakah seperti itu lo pengen dikenang?

Well, the choice is in your hands. Just be wise, and do it in the best possible way you can find.

Thanks for reading this.

Spread love,

hiLda

2 Comments

Leave a Reply