Age of Pride: Insights from IdeaFest 2019

Minggu lalu gue akhirnya bisa juga ikutan acara IdeaFest. Sebuah acara di mana orang-orang kreatif pada ngumpul untuk mencari inspirasi dan ilmu baru. Acara ini diadakan tanggal 3 – 6 Oktober 2019. Dibuka dengan ComedyX yang menampilkan para stand up comedian di hari pertama. Lalu dilanjutkan dengan IdeaConference di hari kedua yang acaranya adalah sebuah konferensi yang dibawakan oleh orang-orang top. Dan ditutup dengan dua hari IdeaTalks yang isinya berbagai talk show dengan banyak banget topik menarik yang dirangkum apik di berbagai kelas.

Sebenarnya gue tertarik banget untuk ikut dari hari pertama. Tapi karena keterbatasan waktu (– dan ada satu bocah yang enggak bisa ditinggal terlalu lama juga tentunya), gue akhirnya nego sama suami untuk ikutan IdeaTalks selama 2 hari yang diadakan saat weekend aja. Dan meskipun cuma ikut 2 hari, gue dapat banyak banget insight seru dan menarik dari acara ini.

Ada banyak banget kelas yang gue ikutin. Dan semuanya dibawain sama orang-orang hebat yang jarang bisa lo temuin jadi pembicara di luar. Dan dari mereka, ada banyak nilai-nilai keren yang pengen gue bagiin ke kalian semua. Sejujurnya, gue gak benar-benar ingat secara detail siapa yang ngomongin poin-poin di bawah ini satu per satu. Tapi yang jelas, ide-ide di bawah ini datang dari orang-orang hebat yang gue temuin di sana.

So… Check this out.

#1 This Is The Time for Creative People

Perkembangan teknologi sekarang semakin pesat dan merambah ke segala bidang kehidupan. Dengan adanya teknologi, kehidupan manusia semakin dimudahkan. Jadi, ada banyak banget aspek-aspek kehidupan yang bisa dipangkas dengan adanya teknologi. Teknologi sangat disruptif, sampai-sampai pola hidup kita juga berubah untuk menyesuaikan dengan perkembangannya.

Dengan adanya perkembangan yang hebat ini, udah bukan zamannya lagi untuk jadi orang yang gitu-gitu aja. Being smart and following rules is one thing. But to survive in this era, we need to be more creative. Apalagi untuk generasi berikutnya yang hidupnya akan lebih banyak lagi dipengaruhi oleh teknologi. Nilai bagus di raport aja enggak akan cukup. Mereka perlu belajar untuk thinking outside the box. Untuk bisa kasih solusi yang beda. Untuk bisa memberikan nilai lebih dari yang konvensional.

So get ready, creative people. This is our time to shine!

#2 Local, Local, Local….!

Kalau zaman dulu kita biasanya lebih bangga kalau pakai barang-barang import yang belinya susah di luar negeri. Tapi sekarang, justru industri luar yang lebih banyak cari konten lokal loh! Masih ingat sama film Wiro Sableng yang dapat support dari 20th Century Fox? Di salah satu sesi IdeaTalks yang gue ikutin, produser Wiro Sableng, Sheila Timothy, sempat kasih tahu ke kita-kita kalau industri film tanah air justru sedang naik daun. Meskipun harus bersaing dengan judul-judul film Hollywood, film-film Indonesia ternyata tetap dapat penonton yang setia dan signifikan. Bahkan semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Jadi, jangan malu lagi kalau pergi ke bioskop buat nonton film lokal ya. Memang, para produser film Indonesia yang jadi panelis waktu itu juga mengakui kalau masih banyak film lokal yang secara kualitas harusnya enggak bisa masuk bioskop. Dan kalau boleh jujur, itu juga yang suka bikin gue ilfeel kalau mau nonton film Indonesia. Jadi suka sangsi gitu, bakalan bagus ga ya. Ntar tahunya isinya film-film gak jelas yang bikinnya asal-asalan. Kan jadi buang-buang waktu. Tapi, udah saatnya kita dukung film dalam negeri kita sendiri. Karena udah semakin banyak filmmaker berkualitas yang bermunculan di tanah air kita ini. Dan gue rasa, enggak cuma industri film internasional aja yang merambah ke ranah lokal.

Jadi, jangan malu lagi kalau pakai produk dalam negeri ya, guys and gals! Udah saatnya kita bangga sama negeri kita sendiri.

#3 Use Your Social Media Wisely

Media sosial sekarang udah jadi bagian dari hidup kita yang enggak terpisahkan. Gue agak kaget juga waktu terakhir gue ke Bandung dan menemukan iklan “Wisata Selfie” keliling Bandung. OMG! Jadi sekarang orang pun jalan-jalan bukan cuma buat liburan ya. Tapi juga demi feed Instagram!! Weleh….

Tapi dengan adanya media sosial, kita pun sebagai pribadi punya tanggung jawab untuk menjaga supaya media sosial kita tuh isinya “benar”. Maksudnya gini. Ini gue dengar dari Joe Taslim yang follower-nya udah 1 juta. Dia sendiri ngerasa bertanggung jawab sekali akan apa yang dia post di Instagram-nya. Karena, kalau dia sebagai seorang public figure ngatain sebuah brand jelek banget, mungkin akan ada follower-nya yang nganggap itu cuma omongan sambil lalu. Tapi pasti akan ada juga follower-nya yang akan ikut-ikutan ngejauhin brand itu cuma gara-gara apa yang dia tulis di media sosial.

Kehidupan sosial dalam digital dan kehidupan sosial secara fisik sekarang ini batasannya sangat tipis. Jadi jangan lagi mikir kalau apa yang lo post di internet bakal cuma jadi angin lalu. Sama kayak kalau lo ngomel-ngomelin orang di muka publik, orang-orang akan ngecap lo sebagai orang yang gak baik. Kalau lo ngomel-ngomel di media sosial, impact-nya lebih buruk lagi karena orang bisa nge-screenshot dan selamanya omelan lo itu akan mereka kenang. Bahkan kalau Insta Story lo cuma bertahan 24 jam, screenshot akan bertahan selamanya. Dan itu akan menodai image lo sepanjang masa.

So, be responsible with you social media, guys and gals!

#4 Make A Better Change

Salah satu sesi yang paling menyentuh buat gue adalah sesi yang diadain sama SATU Indonesia Awards by Astra. Di situ, para pemenang SATU Indonesia Awards yang jadi panelisnya. Dan mereka sharing tentang cerita-cerita perubahan yang mereka bikin untuk masyarakat Indonesia. Ada Dr. Dani yang ngajarin dokter untuk punya akhlak yang lebih baik, ada Resika sang Ratu Cimol Banyumas yang bikin franchise cimol untuk ngebantu orang-orang kecil, dan ada Nodeflux yang bikin perusahaan AI di Indonesia dan bikin solusi kecerdasan buatan untuk Pemprov DKI dan juga sampai dapat berbagai penghargaan tingkat internasional.

Karya yang mereka buat sangat nyata dan berdampak besar untuk masyarakat. Bikin kita mikir, apa yang udah kita lakukan dengan hidup kita ya? Gimana caranya supaya karya kita juga bisa berdampak buat orang banyak? Rasanya sulit banget. Tapi dari pertanyaan ini mereka kasih kita semua semangat untuk bisa membuat sebuah perubahan dari keresahan yang kita rasakan dalam diri kita sendiri. Indonesia adalah negara berkembang yang punya banyak masalah. Kita patut bersyukur tinggal di negara yang bermasalah, karena mereka butuh banyak solusi. Jadilah solusi itu. Mulailah dari yang kecil. Jangan jadi generasi mager.

Do something. And make a change.

Sebagai penutup, ada satu hal yang gue suka banget dari apa yang diomongin sama Meidy Fitranto dan Faris Rahman, para Founder Nodeflux. Sebenarnya ini jawaban dari pertanyaan gue ke mereka. Pertanyaan gue adalah: “Kenapa mereka stick sama AI? Karena AI tuh bidang ilmu yang susah banget. Kok mau sih?” Dan untuk ngejawab pertanyaan ini mereka kasih pertanyaan, “Tahu gak kenapa Kennedy mau nerbangin orang ke bulan?” Ketika enggak ada yang ngejawab dengan tepat, Meidy ngejawab di akhir sesi, “Karena susah.”

Jadi, mungkin kita punya cita-cita yang besar. Dan untuk mencapainya itu susah. Tapi kenapa berhenti cuma karena itu? Toh orang aja bisa nyampe ke bulan meskipun susah kan. 😉

Thanks for reading this. Leave your comment below. Dan follow juga Instagram gue di sini atau LINE Official Account gue di sini untuk selalu dapat update terbaru dari blog Ijofreak.

Spread love,

hiLda

Leave a Reply