Why Game of Thrones Finale Is Not That Bad

Hari Senin yang lalu kita semua menyaksikan gimana akhir kisah epik Game of Thrones yang dibuat oleh George R. R. Martin tentang Westeros dan segala intrik yang ada di dalamnya. Banyak orang yang kecewa dengan akhir dari HBO TV Series ini. Karena banyak pihak yang menilai bahwa Season 8, yang adalah season pamungkas dari saga yang fenomenal di seluruh dunia ini, malah menjadi season yang paling terburu-buru penceritaannya. Entah karena budget HBO yang terbatas (– IMO, gak mungkin juga sih kehabisan budget, keuntungan mereka banyak banget dari serial ini), atau karena faktor 2 novel terakhirnya yang biasanya memuat begitu banyak detail masih belum dirilis oleh GRRM.

Well, apapun alasannya, menurut pendapat gue, Season 8 memang benar terlalu terburu-buru. Ibarat orang yang kebelet pipis dan pengen buru-buru lari ke WC, Season 8 Game of Thrones seolah juga pengen buru-buru sampai ke ending. Banyak detail dan intrik yang biasanya kasih kita efek surprise menghilang begitu saja dari kisah ini. Apa boleh buat, kalau kata GRRM, kalau mereka mau setia dengan kisah yang dia bikin, bakal butuh ber-seasonseason untuk beresin semuanya. Dan bisa jadi para penonton udah keburu bosan. Jadi, gue sejujurnya gak kecewa dengan Season 8. Dan grand ending dari kisah ini juga gue suka banget. Despite of what everybody arguing about on the internet. Let me tell you why.

1. The End of The Good-Girl-Turn-Bad Queen

It’s sad. The way she died. In the arms of the one that she love. And it may be considered as a betrayal.

Tapi melihat perubahan karakter Dany, memang sudah bisa dipastikan dia enggak akan bertahan lama. Pasti pada akhirnya dia akan terbunuh juga. Suspect pertama gue adalah Arya yang bakal membunuhnya. Tapi ternyata malah Jon yang menancapkan belati ke jantungnya. Yang mana bikin ini jadi ending yang bittersweet seperti yang dijanjikan para produsernya.

Yang disayangkan adalah proses perubahan karakter Dany dari The Most Amazing Queen jadi The Maddest Queen hanya dalam satu episode. Ada banyak banget cara untuk mengubah karakter seseorang dalam sebuah cerita dan GRRM adalah jagoannya. Dia sukses mengubah kita dari yang benci sama Jaime jadi suka banget sama dia dalam perjalanan kisahnya selama 7 season. Tapi sangat disayangkan, karakter Dany yang adalah karakter favorit semua orang malah diubah jadi villain hanya dalam satu episode, bahkan hanya dalam beberapa adegan yang kurang mencitrakan kewibawaan yang selama ini dia punya. Yang mana malah bikin persepsi kita tentang Dany jadi kayak anak ABG yang tantrum dan kebetulan punya naga, terus ngamuk meluluh lantakkan satu kota. That’s how you lost all your supporters in one night. It’s too soon. Enggak cantik dan elegan seperti yang biasanya dilakukan GRRM.

Anyway, kalau memang Dany berubah menjadi orang dengan watak seperti itu, memang sudah sepantasnya dia berakhir tragis. Karena memang orang yang berpikir bahwa hanya dialah yang benar dibandingkan dengan semua orang yang lain adalah orang yang paling berbahaya. Dia arogan dan dia punya kekuasaan yang besar. Kalau dia dibiarkan terus-menerus, bakal jadi seperti apa nantinya? Bisa jadi kayak Hitler dan NAZI. So, gue gak keberatan bahwa Jon melakukan apa yang dia lakukan. It hurts. But it’s necessary.

And for the record, actually the story can be so much better if anybody put more efforts in the script. Hopefully the novel can deliver that.

2. The End of The Iron Throne

Kursi kebanggaan yang jadi rebutan semua orang. Setiap karakter di papan catur Game of Thrones mengidam-idamkan untuk bisa duduk di atas singgasana ini. Tapi pada akhirnya enggak ada yang bisa duduk di sana dan bertahan lama. Semua orang yang duduk di sana berakhir tragis dan mati sebelum umurnya dengan cara yang berbeda-beda tapi sama tragisnya. Gak terkecuali Daenerys.

Dan lo tahu siapa yang paling ngerti permasalahan itu? DROGON!!!

Adegan di mana Iron Throne dibakar sampai lumat sama Drogon adalah adegan favorit gue sepanjang GoT ada di layar kaca. Naga adalah makhluk yang cerdas. Setelah akhirnya Dany mati, dan Jon sang pewaris sah dari awal memang enggak mau naik takhta, Iron Throne memang jadi barang usang yang terbengkalai. Dia hanya menimbulkan masalah doang. Maka dalam kemarahannya, Drogon membakar Iron Throne hingga lumat.

No Iron Throne, no more battle to win it. Good boy Drogon!! Give me high five!! 🙌🏻

3. The End of A Monarchy

Jadi, sepanjang sejarah Westeros, semua raja dan ratu yang memerintah adalah keturunan raja dan ratu sebelumnya. Rakyat enggak bisa memilih siapa yang memerintah mereka. Makanya, nasib rakyat bergantung banget sama para petinggi yang memang peduli sama mereka kayak Lord Varys.

Apa yang dibutuhkan untuk menumbangkan sistem yang merusak ini? Ternyata segala rangkaian perang yang berakir menghancurkan King’s Landing lah jawabannya. Meskipun usulan ini dicetuskan oleh Tyrion yang statusnya tahanan, dan semuanya berubah hanya dalam satu meeting yang singkat (– yang lagi-lagi terkesan seperti plot yang kebelet pengen cepet-cepet udahan), ending-nya tetap menyenangkan buat gue. Karena pada akhirnya mereka memutuskan untuk membuat sistem demokrasi.

Banyak yang nyinyir karena Bran yang jadi raja. Dia kayak orang yang kerja kelompok, tapi gak ngapa-ngapain, tahu-tahu dapat nilai A. Yaaa… Memang benar sih. Tapi meskipun demikian, tetap dia adalah pilihan yang cerdas. Dia sangat bijaksana karena punya pengetahuan Three Eyed Raven yang tahu segala sejarah manusia. Maka enggak menutup kemungkinan, dalam pemerintahannya dia bisa membuat sistem yang sempurna dengan segala pengetahuannya yang mungkin mengalahkan sistem pemerintahan modern kita sekarang.

Oh, I wish we have him in the real world!!! I wouldn’t mind being led by that kind of king – or president.

4. The End of Fire And Blood

Seperti yang kita semua tahu, nama asli Jon Snow adalah Aegon Targaryen. Dia adalah pewaris sah Iron Throne dan sebenarnya, meskipun sudah membunuh Queen Daenerys, yang adalah kekasihnya dan tantenya sendiri, bisa saja naik takhta dengan serangkaian aksi politik yang rumit.

Tapi Jon, being an idealist as he is, enggak tertarik sama sekali dengan Iron Throne. Meskipun bisa dibilang dia lah yang paling berjasa menyelamatkan Westeros dari tirani berikutnya, dia tetap merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. Dia bahkan mempertanyakan apakah yang dilakukannya benar atau enggak pada Tyrion. “Ask me again in 10 years,” jawab Tyrion.

Despite of that, Jon adalah tokoh sentral yang sangat disukai para penonton. Ketika dia enggak mau naik takhta, dan dia sudah melakukan kejahatan besar dan menodai hati nuraninya sendiri, yang dia pikir layak dia terima adalah hukuman seumur hidup di Castle Black. Sebuah hukuman yang dijatuhkan oleh King Bran The Broken yang adalah adiknya sendiri. Tega ya? Tunggu dulu.

Ketika sampai di Castle Black Jon bertemu dengan Tormund. Dan dia juga bersatu kembali dengan Ghost, satu-satunya direwolf anak-anak keluarga Stark yang masih bertahan hidup sampai akhir. Di sana dia sudah ditunggu oleh para wildling yang kita pikir sudah berjalan melewati The Wall ke North of The Wall sejak awal episode 4. Dan apa yang dia lakukan berikutnya? Dia berjalan melewati The Wall bersama para wildling dan menutup pintunya. Seolah-olah dia menutup masa lalunya dan memulai kehidupan barunya di mana dia benar-benar bisa merasa bebas dan pernah menemukan jati dirinya pertama kalinya sebagai free folks.

That is the well deserved ending for him. Honestly. It’s the best ending for him!

Jangan komplain kalau Jon enggak naik takhta, malah Bran yang jadi raja. Karena ini membuktikan bahwa Bran adalah raja yang sangat bijaksana dengan membuat keputusan yang bisa memuaskan para Unsullied sekaligus memberikan ending yang layak buat Jon. Dan pada akhirnya Jon mendapatkan apa yang selalu dia idam-idamkan. Kebebasan yang sesungguhnya. Dia enggak perlu memerintah di sebuah takhta yang sama sekali enggak dia inginkan. He is the King Beyond The Wall. And he is also a free folk. Just like he used to be with Ygritte.

5. The End of The Game and The Beginning of The Starks

Cerita Game of Thrones dimulai 8 tahun yang lalu di Winterfell. Di mana King Robert Baratheon menempuh perjalanan panjang ke North untuk bertemu dengan Ned Stark dan memintanya datang ke King’s Landing dan mendampinginya sebagai Hand of The King. Kisah ini dibuka oleh keluarga Stark. Dan dengan epik ditutup juga oleh keluarga Stark.

Sistem monarchy memang masih bertahan di Westeros dengan Sansa sebagai Queen in The North. Tapi itu enggak masalah karena memang para penduduk Winterfell enggak mudah tunduk pada sembarangan orang. Dan Sansa memang sudah berjuang merebut Winterfell kembali dengan segala pengorbanannya. Jadi dia layak memaka mahkota itu. Lagian, gue rasa, kalau para penduduk Winterfell disuru pemilu pun, yang bakal menang tetap Sansa 100% sih. Lol!

Begitu juga dengan Arya yang sengaja enggak mau pulang ke Winterfell tapi memilih untuk jadi explorer yang berlayar ke lautan yang belum terpetakan. Siapa tahu di ujung dunia sana dia bisa menemukan Amerika?! Atau bisa jadi malah dibikin serial barunya. Haha! Gue gak keberatan untuk nonton serial itu nanti.

So in the end, the Starks are actually the winner of Game of Thrones. Serangkaian perang yang mewarnai Game of Thrones dipicu karena Ned Stark yang dipenggal kepalanya secara enggak adil. Dan pada akhirnya, Game of Thrones ditutup dengan kemenangan anak-anaknya. Bran menjadi King Bran The Broken, Sansa menjadi Queen in The North dan Jon menjadi King Beyond The Wall. Well, siapa tahu nanti Arya mendirikan kerajaan baru di barat Westeros dan jadi Queen yang baru lagi. Haha!

Anyway, in the end, it’s a well deserved ending for The Starks after everything they have been through.

Jadi, buat kalian yang masih baper sama ending TV Series Game of Thrones, semoga kalian bisa stop baper dan menemukan closure lewat poin-poin yang gue sebutkan di atas. Masih ada hal yang mengganjal dari ending serial yang fenomenal ini? Tunggu aja novelnya terbit. Yang pastinya adalah karya original George R. R. Martin. Dan semoga karyanya nanti bisa mengobati setiap rasa baper yang tersisa. Cuma, bersabar dulu aja ya, karena GRRM sendiri pun belum bisa memastikan kapan bukunya akan rilis. Haha!

Thanks for reading this!

Spread love,

hiLda

PS: Masih ada pertanyaan soal ending GoT? Leave comment di bawah dan gue bakal berusaha jawab sebaik mungkin.

Leave a Reply