Berkibarlah

Langit malam gelap tak berbintang. Halaman sekolah yang kalau di siang hari dipenuhi oleh para siswa, sekarang sepi tanpa kehidupan. Kecuali sekelompok orang yang sedang membuat lingkaran dengan sebuah tiang bambu di tengahnya.

Seorang pria gagah menghampiri sekelompok orang yang berdiri melingkar itu. Dia adalah Kak Budi. Kepala pembina Paskibra di SMU ini. Langkah kakinya mantap diiringi suara sepatu boot-nya yang menghantam tanah. Tidak heran bahunya begitu tegap dan gerak-geriknya begitu tegas. Gosipnya, dia lulusan sekolah militer. Di kedua tangannya, dia memegang sebuah bendera. Bendera merah putih. Bendera Indonesia.

Hari itu adalah tanggal 16 Agustus. Satu malam sebelum upacara pengibaran bendera di sekolah. Orang-orang yang berdiri melingkar itu adalah para siswa yang terpilih untuk menjadi paskibra. Jumlahnya enggak banyak. Cuma 9 orang. Pasukan kecil yang sederhana untuk sebuah upacara tahunan di sekolah. Tapi memang tujuan mereka berada di sini berbeda-beda.

Ada Randy yang sedikit ceroboh, menganggap jadi Paskibra akan bikin dia jadi lebih kuat. Lukman, yang berpikir dengan jadi Paskibra dia bakal kelihatan lebih keren. Dena, yang dari SD memang suka baris-berbaris. Tasya, si cantik yang nge-fans sama Kak Budi. Fitri, si cewek mungil yang pengen menantang limit fisiknya. Karen, si juara kelas yang ditantang ikut Paskibra oleh guru PPKn-nya demi dapat nilai tambahan. Priscil, yang pengen masuk ke perguruan tinggi negeri dan berharap masuk Paskibra dapat mepercantik CV-nya. Ari, si anak nakal yang lagi menjalankan hukumannya karena sudah menggambari tembok WC sekolah. Dan Dimas, yang adalah calon ketua OSIS dan ada di sana sebagai prasyarat dilantik jadi ketua OSIS.

Mereka semua berdiri diam tanpa suara. Hanya ada suara derap langkah Kak Budi yang membahana di halaman sekolah. Dalam diam, Kak Budi mengikatkan bendera merah putih ke tiang bambu yang mereka kelilingi. Meskipun mereka tidak bersuara, mereka tahu apa yang akan terjadi. Ini pasti hukuman atas apa yang tadi siang terjadi.

Waktu latihan intensif tadi siang, Randy yang bertugas mengambil bendera di ruang Posko Paskibra, terjatuh dengan begitu epiknya di tengah lapangan karena tersandung kakinya sendiri. Enggak heran. Randy memang ceroboh. Dan Dimas yang adalah komandan pasukan, seharusnya lebih bijaksana dan meminta orang lain mengambil bendera itu. Dalam hati, dia memaki dirinya sendiri karena mempercayakan tugas sepele kayak gitu pada Randy. Randy itu ceroboh. Jalan doang aja bisa jatuh kayak bayi. Sialnya kali ini dia jatuh sambil pegang bendera pula. 

Adalah sebuah dosa yang teramat besar bagi setiap anggota Paskibra ketika bendera merah putih menyentuh tanah. Hanya setitik saja bendera menyentuh tanah, seluruh pasukan bakal dihukum push-up minimal 20 kali oleh para pembina. Masalahnya, bahkan yang terjadi tadi siang bukan hanya menyentuh tanah. Tapi bendera itu tergeletak di tanah yang berdebu dan setengahnya terendam genangan air bekas hujan tadi pagi. Dosa yang teramat kejam bagi seorang anggota Paskibra ketika warna merah putih pada bendera itu berubah menjadi semburat kecoklatan yang bercampur tanah dan air. Mereka pasti harus membayar mahal untuk pelanggaran itu.

Para pembina enggak tahu sama sekali siapa yang menyebabkan kotornya bendera latihan itu. Yang menyaksikan kejadian itu hanyalah para anggota pasukan saja. Sebelum mereka bersepakat apa yang akan mereka lakukan dengan kejadian itu, Kak Budi sudah kembali ke lapangan. Yang dia saksikan hanya Dimas yang memegang bendera yang kotor dan basah. Dan tanpa penjelasan sedikit pun menyerahkannya kepada Kak Budi, berharap dia enggak mempermasalahkannya, yang mana pastinya enggak mungkin terjadi. Kak Budi enggak berkomentar sama sekali waktu itu, yang mana sangat mengejutkan buat Dimas. Dia hanya diam dan mengambil bendera itu lalu pergi mengambil bendera latihan pengganti dari posko tanpa kata-kata. Raut mukanya tetap tegas tanpa ekspresi seperti yang selalu dia pasang di setiap latihan. Sama dengan malam ini. Diam. Tanpa ekspresi. Mencekam.

Perlahan Kak Budi berbalik menghadap mereka. Dia memandangi mereka satu per satu sambil berjalan mengelilingi lingkaran. Ada 3 orang pembina lainnya yang berdiri di luar lingkaran: Kak Melani, si kakak galak yang judes; Kak Willy, si kakak bertubuh tinggi besar seperti pemain rugby; dan Kak Bobby, si kakak favorit yang selalu memainkan peran polisi baik hati.

Akhirnya pada satu titik Kak Budi berhenti berjalan. Dia berdiri tepat di depan Dimas yang dengan sengaja mengalihkan pandangannya jauh ke depan supaya tidak harus beradu mata dengannya. Belum pernah Dimas dipandangi dengan begitu intens oleh seseorang dengan jarak sedekat ini. Tapi dia enggak boleh bergerak atau lari. Karena mereka sedang dalam sebuah formasi pasukan. Posisi siap. Badan tegak, pandangan mata lurus ke depan. Tidak boleh melakukan gerakan lainnya sedikit pun.

“Kamu tahu apa yang terjadi tadi siang, Dimas?” tanya Kak Budi.

“Tahu, Kak. Bendera latihan terjatuh dan jadi kotor, Kak,” jawabnya tegas.

“Kamu tahu apa hukumannya kalau bendera jatuh ke tanah?”

“Push up 20 kali, Kak,”

“Iya. Itu kalau menyentuh tanah. Kalau jatuh sampai basah ke air comberan, menurut kamu berapa kali push up yang harus kamu bayar?” tanya Kak Budi dengan nada ancaman.

Dimas terdiam. Ragu-ragu harus menjawab apa.

“Push up 20 kali, Kak,” jawabnya bersikukuh.

“Loh, kok sama sih?” celetuk Kak Melani dari belakang lingkaran. 

“Karena sekarang sudah malam dan seluruh pasukan perlu istirahat untuk upacara besok, Kak. Dan kami harus selalu melakukan hukuman bersama-sama demi kesatuan. Jadi lebih baik hukumannya tidak terlalu berat, Kak,” tawar Dimas.

“Wah, hebat juga kamu berani nawar ya,” kata Kak Budi sinis, “Kalau gitu ini penawaran saya. Kalau kamu bilang siapa yang menjatuhkan bendera tadi siang, cuma si pelaku aja yang perlu push up 100 kali. Yang lain gak usah.”

Hah? 100 kali? pikir Dimas dalam hati, Mana ada yang sanggup push up sebanyak itu malam-malam begini setelah lelah latihan intensif selama 2 hari?!

Dimas terdiam. Enggak tahu harus menjawab apa.

“Ayo, jangan diam aja. Sebut namanya biar kalian semua bisa istirahat. Pada capek kan?!” kata Kak Willy memanas-manasi.

Di seberang Dimas, Karen merasa geregetan setengah mati. Kenapa Dimas enggak menjawab. Dia sudah lelah dengan semua latihan ini. Kalau dia tahu jadi Paskibra segini capeknya, dia gak akan masuk hanya demi nilai PPKn 9 di rapot. Ini gak sebanding rasanya. Dia cuma pengen upacara bendera cepat selesai dan gak akan sekalipun lagi dia melangkahkan kakinya ke ekskul biadab ini!

“Saya enggak bisa menyebut nama orangnya, Kak. Lebih baik kami menjalani hukuman bersama-sama,” jawab Dimas.

Apa????!!!, teriak Karen dalam hati, Push up 20 kali aja gue udah gak sanggup. Apalagi 100 kali! Dimas udah gila kali ya?!

“Jadi kamu lebih memilih semua pasukan kamu push up 100 kali, Dimas? Kamu gak kasihan sama Fitri tuh yang udah kecil mungil begitu masih harus push up sebanyak itu? Kamu bisa selamatin dia dari hukuman loh. Kamu gak mau?” tanya Kak Budi.

Fitri kaget mendengar namanya disebut. Tapi dalam hati dia akan sangat bersyukur kalau dia enggak perlu push up 100 kali. Meskipun dia yakin, kalau Dimas menyebut nama Randy pun, Randy enggak akan kuat menjalani hukuman itu.

“Saya minta waktu untuk berdiskusi dengan pasukan, Kak,” jawab Dimas.

“Gak perlu. Gak ada waktu untuk diskusi,” jawab Kak Budi.

“Sudah, Dimas. Ngapain sih melindungi orang yang berbuat salah. Sebut aja satu nama. Beres kok,” kata Kak Bobby ramah seperti biasanya.

Ari yang berdiri di sebelah Dimas merasa begitu geram dengan percakapan itu. Ada satu cara untuk menudahinya. Kenapa sih Dimas ribet begini.

“Randy yang ngejatuhin benderanya, Kak,” celetuknya enteng.

“Nah gitu dong. Berani sebut nama. Apa susahnya sih,” kata Kak Melani sinis.

“Benar Randy pelakunya, Dimas?” tanya Kak Budi.

Batin Dimas galau. Memang itu adalah kesalahan Randy, tapi dia enggak sengaja. Dia enggak mau satu orang dihukum begitu berat cuma karena sesuatu yang enggak disengaja. Dan dia lebih enggak mau lagi semua orang dihukum begitu berat cuma karena sesuatu yang enggak disengaja.

“Bukan, Kak. Bukan Randy pelakunya,” jawab Dimas berbohong.

Ari mengalihkan pandangannya ke Dimas dan memandangnya dengan tatapan tidak percaya. Yang mana langsung mendapatkan hajaran di kepala dari Kak Willy.

“Sikap siap! Pandangan lurus ke depan!” teriak Kak Willy.

“Siap, Kak,” kata Ari kembali menghadap ke depan.

“Kalau bukan Randy, jadi siapa pelakunya?” tanya Kak Budi lagi.

Priscil selalu mengagumi jiwa patriot Dimas. Tapi kali ini dia sudah keterlaluan. Apa maunya menjatuhkan seluruh pasukan cuma karena perbuatan Randy?! Kalau tahu begini, dia enggak akan memilih Dimas jadi Ketua OSIS di pemilihan bulan lalu. Menyesal setengah mati!

“Saya yang menjatuhkan bendera, Kak!” jawab Dimas lantang.

Sekarang seluruh pasukan tertegun. Mereka semua serentak memandangi Dimas seolah-olah dia orang gila.

“Sikap siap! Pandangan lurus ke depan semua!!” teriak Kak Willy keras.

“Siap!” teriak semuanya serentak kembali memalingkan wajah mereka masing-masing ke depan.

Dalam hatinya, Lukman berpikir tindakan Dimas sangat keren. Dia mengorbankan dirinya demi membela orang yang lemah. Seperti para superhero yang dia kagumi di film-film.

“Jadi kamu yang menjatuhkan bendera, Dimas?” ulang Kak Budi.

“Benar, Kak,” jawab Dimas tanpa keraguan.

Randy merasa semakin bersalah. Dia enggak mau orang lain menderita karena kesalahannya.

“Saya yang menjatuhkan bendera tadi siang, Kak,” teriak Randy dengan berani.

“Loh ini gimana sih? Kalian ngejatuhin bendera bareng-bareng gitu?” tanya Kak Melani.

“Bukan, Kak. Saya yang menjatuhkan benderanya,” teriak Lukman gak mau kalah keren dari Dimas. Dia gak peduli kalau harus push up 100 kali sekalipun asal bisa jadi superhero.

“Jangan bohong kalian! Mana mungkin ada tiga orang menjatuhkan bendera bersama-sama?!” teriak Kak Willy.

“Saya yang menjatuhkan benderanya, Kak,” pekik Tasya yang membuat semua orang makin tercengang karena enggak mungkin cewek kurus ini sanggup push up sampai 100 kali. Dalam hatinya dia cuma berharap aksinya ini bisa mendapat perhatian dari Kak Budi.

“Tasya, sudah deh kamu jangan ikut-ikutan. Jujur saja biar masalah ini cepat selesai,” ujar Kak Bobby berusaha menjauhkan Tasya dari hukuman berat.

“Saya yang menjatuhkan benderanya, Kak,” teriak Dena ikut-ikutan. Kalau Tasya saja berani mengajukan diri, masa Dena mau kalah sih?!

“Sudah cukup kalian semua!” teriak Kak Budi, “Kalian kompak berbohong ya! Kalau begitu saya mau lihat bisa sekompak apa kalian dalam menjaga bendera yang akan kalian kibarkan besok. Kalian lihat bendera di tiang ini? Sekarang tugas kalian adalah mempertahankan bendera ini dengan sekuat tenaga. Terserah kalian mau melakukan apa. Kami para pembina akan berusaha merebut bendera ini dari luar lingkaran. Kalau sampai ada pembina yang mampu menyentuh bendera ini, kalian semua harus push up 200 kali. Paham?!”

Dimas tertegun. Hukumannya sekarang jadi dua kali lipat. Tapi mereka sudah enggak bisa mundur lagi. Dalam hatinya dia berterima kasih pada teman-temannya yang mau membelanya. Tapi ternyata dengan saling membela, mereka malah dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih besar. Bagaimana caranya mereka menghadang Kak Willy yang begitu besar badannya? Yang bisa mereka lakukan hanyalah pasrah. 

Kak Budi berjalan keluar dari lingkaran. Mereka hanya punya waktu dua menit untuk berembuk tentang strategi. 

“Gue berterima kasih banget kalian ngebelain gue,” kata Randy.

“Nanti aja, Ran. Waktu kita sempit,” jawab Dimas, “Yang bisa kita lakukan sekarang cuma bertahan sekuat tenaga. Nanti kita bentuk lingkaran, terus saling kaitin siku ya. Apapun yang terjadi, jangan sampai ada yang ngelepasin kaitan. Lalu yang kuat, lindungin yang lemah. Ari, gue gak suka lo ngaduin Randy tadi. Tapi sekarang gue minta bantuan lo untuk jagain Fitri. Lukman, lo jagain Tasya. Randy, lo berdiri di sebelah gue. Dena, Priscil dan Karen berdiri menyebar di antara yang lainnya ya.”

Mereka semua bergerak sesuai perintah Dimas. Karena waktu yang sempit, enggak ada kesempatan buat berdebat. Mereka juga enggak mencoba untuk mendebat taktik Dimas yang jitu itu.

“Semuanya siap! Kalian hanya perlu bertahan selama 5 menit. Saya pasang timer di sini. Selama 5 menit itu, semua pembina akan berusaha merebut bendera yang ada di tengah kalian dengan cara apapun. Kalau sampai ada pembina yang berhasil menyentuhnya, kalian kalah dan harus push up 200 kali. Cukup jelas?”

“Jelas, Kak!” jawab pasukan dengan suara lantang. Mereka bersiap sambil saling mengaitkan siku. Jantung mereka berdegup kencang seperti terpidana yang menjalankan pengadilan.

“Siap! Mulai!” kata Kak Budi yang diiringi tiupan peluit.

Dalam sekejap, formasi lingkaran yang rapi mulai kehilangan bentuknya. Ari, Fitri dan Karen terdesak oleh Kak Melani yang terus mendorong sambil menjatuhkan mental mereka.

“Minggir, Fitri! Kamu gak akan bisa! Kamu lemah! Mana mungkin kamu sanggup mempertahankan bendera!”

Fitri sudah hampir meneteskan air mata. Tapi dia terus bertahan.

Di sisi lain, Kak Willy mendesak Lukman, Tasya dan Dena tanpa ampun. Dia enggak banyak berbicara. Tapi dengan badannya yang tinggi dan besar, dengan mudah dia dapat menggapai bendera. Maka Lukman terus mendorongnya dengan punggungnya. Perlahan-lahan dia mulai meregangkan kaitan sikunya, dan memindahkan pegangannya ke telapak tangan supaya menjauhkan jarak Kak Willy dari pusat lingkaran. Dena dan Tasya bersusah payah menarik Lukman dengan tangannya. 

Sementara itu, Kak Budi sedang beradu dengan Dimas. 

“Lihat pasukan kamu, Dimas. Apa ini pasukan yang pantas untuk mengibarkan bendera? Pasukan yang bahkan ngambil bendera dari Posko aja gak becus! Dan sekarang kompak berbohong! Kalian enggak layak!”

Lalu Kak Budi mendorong Dimas berkali-kali sekuat tenaga, berusaha melepaskan kaitan tangannya. Randy dan Priscil berusaha bertahan dengan menarik Dimas sekuat tenaga.

“Dimas, gue berterima kasih banget lo udah bela gue. Seumur hidup gue di sekolah ini, belum pernah ada yang ngebela gue. Lo komandan yang hebat, Dim!” kata Randy sambil tersenggal-senggal.

Mendengar kata-katanya, kekuatan Dimas seolah bertambah. Dorongan dan makian dari Kak Budi jadi enggak berarti lagi. Cuma butuh lima menit. Dan dia akan membawa pasukannya bebas dari hukuman. Tapi lima menit rasanya kok lama banget ya.

“Dimas, lihat pasukan kamu sudah mulai kewalahan. Tasya sudah hampir pingsan tuh. Kamu gak mau bantuin?” kata Kak Bobby yang dari tadi tidak ikut adu fisik ini dan berdiri saja jauh di belakang.

Dimas melihat ke arah mereka. Lukman memang sudah kewalahan menghadapi Kak Willy. Dan Tasya juga sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk terus mempertahankan genggaman tangan Lukman. 

Seketika dia terpikirkan rencana hebat. Dia akan berlari secepat mungkin ke arah Lukman dan membantunya menghadapi Kak Willy. Sementara Dena dan Randy secepat mungkin menutup lingkaran lagi ketika dia berlari ke seberang. Yang dia butuhkan cuma celah. Kak Budi nampaknya sekarang lebih tertarik untuk mengecek timer daripada terus mendorong Dimas. Dia mulai berjalan menjauh dari Dimas. Ini dia celahnya. 

“Dena, Randy, gue mau bantu Lukman. Lo tutup lingkaran begitu gue lari ke sana ya. Satu, dua, tiga!”

Lalu Dimas berlari secepat kilat ke arah Lukman. Dena dan Randy sesegera mungkin bergandengan tangan untuk menutup lingkaran. Tapi dalam sepersekian detik, Kak Bobby yang dari tadi hanya menonton di belakang sudah ada di belakang Dena dan dengan mudah menyelinap ke dalam lingkaran. Bahkan sebelum Dimas sampai kepada Lukman, Kak Bobby sudah menyentuh bendera merah putih yang seharusnya mereka jaga itu.

“Kena!” teriaknya keras.

Pritttttt!!! Suara peluit ditiup keras oleh Kak Budi. Menandakan waktu lima menit sudah berakhir.

Mereka semua berdiri terpaku. Semuanya hanya terjadi dalam sekelebat saja. Apa mereka menang? Atau kalah? Mana yang terjadi duluan? Kak Bobby memegang bendera? Atau Kak Budi meniup peluit?

“Pasukan, kembali ke formasi!” perintah Kak Budi.

Mereka kembali membentuk lingkaran dalam diam. Pasrah kepada nasib. Entah bagaimana mereka sanggup bangun besok pagi kalau malam ini mereka harus push up 200 kali.

“Besok kalian punya tugas yang penting. Yaitu mengantarkan bendera merah putih ke ujung tiang yang paling tinggi. Apa kalian mampu mengibarkan bendera dengan sempurna tanpa cacat?” tanya Kak Budi.

“Siap, Kak!” teriak pasukan serentak.

“Apa kalian sanggup menjaga kewibawaan bendera yang dipercayakan kepada kalian?”

“Siap, Kak!” teriak mereka lagi.

“Baik. Saya pegang janji kalian. Dan saya akan mengawasi setiap gerak gerik kalian dari jauh. Tolong pakai setiap pelajaran yang kalian dapat malam ini untuk pengibaran bendera besok. Selamat malam! Bubar jalan!” katanya lagi sebelum berbalik meninggalkan halaman. Diikuti oleh para pembina yang lainnya. Meninggalkan mereka semua kebingungan. Tapi di saat yang sama juga bersyukur karena enggak ditagih melakukan push up 200 kali.

***

Upacara sudah selesai. Para siswa sudah buru-buru masuk ke dalam kantin yang beratap, menghindari panasnya matahari di lapangan. Teman-teman sepasukan Dimas sedang antri membeli es teh manis. Sedangkan dia sedang berdiri di depan tiang bendera sendirian. Menatap bendera merah putih yang berkibar dengan gagah di ujung tiang yang tertinggi.

“Kerja bagus, Komandan,” kata Kak Budi tiba-tiba muncul dari balik punggung Dimas.

“Terima kasih, Kak!” jawab Dimas tidak bisa menyembunyikan senyumannya.

“Selamat juga karena sudah resmi jadi Ketua OSIS,” kata Kak Budi lagi.

“Terima kasih, Kak!” jawab Dimas lagi dengan senyuman yang semakin melebar.

“Saya menghargai apa yang kamu lakukan untuk Randy kemarin. Butuh keberanian yang besar untuk mengorbankan diri sendiri demi melindungi orang lain.”

Dimas tertegun.

“Jadi Kak Budi sudah tahu siapa pelaku sebenarnya?”

“Saya melihat kejadian itu dari jauh. Dari awal semua pembina sudah tahu siapa pelakunya. Kami cuma ingin tahu seberapa kompak kalian sebagai pasukan. Apa kalian akan saling menuding untuk menyelamatkan diri sendiri. Atau menghadapinya bersama-sama sebagai satu kesatuan.”

Mulut Dimas menganga. Sebuah perjuangan yang keras untuk mempelajari sebuah hal yang sederhana. Bahunya masih sakit karena harus mempertahankan lingkaran sambil didorong oleh pria gagah di depannya itu kemarin malam.

“Jadi apa kami lolos tes, Kak?”

“Haha! Menurut kamu?”

“Emm… Karena kami akhirnya berhasil mempertahankan bendera dan gak dihukum push up 200 kali sih saya rasa kami lolos,” jawab Dimas logis.

“Memangnya kamu pikir Kak Bobby menyentuh bendera setelah peluit ditiup?”

“Iya,” jawab Dimas lugas, “Iya, kan?” tanyanya lagi ragu.

Kak Budi hanya tertawa.

“Gak penting itu, Dimas. Yang penting itu apa yang kamu petik dari kejadian tadi malam. Kalian keluar jadi pasukan yang bersatu. Masing-masing dari kalian punya tujuan pribadi untuk masuk ke Paskibra. Tapi lewat pelajaran kemarin, semua tujuan pribadi itu melebur jadi satu tujuan, yaitu mengibarkan bendera. Sesimpel itu kok. Dan akhirnya upacara hari ini berjalan dengan lancar semuanya. Kalau sudah begitu, apa masih penting siapa yang menang?”

Dimas terkekeh. Tidak disangka cowok galak ini ternyata bijaksana juga.

“Sekarang kamu jadi pemimpun buat seluruh siswa di sekolah. Kamu enggak cuma memimpin 9 orang lagi, Dimas. Saya harap kamu bisa memanfaatkan tanggung jawab ini sebaik-baiknya.”

“Baik, Kak!” jawab Dimas tegas, “Terima kasih untuk semua pelajaran berharga yang Kakak berikan,” imbuhnya sambil mengulurkan tangannya.

Kak Budi menyambut jabatan tangannya. Genggaman tangannya kuat. Layaknya seorang pejuang sejati.

Kemudian dia berbalik, melangkah pergi. Meninggalkan Dimas sendirian lagi di bawah tiang bendera itu.

Ya. Ternyata bendera yang berkibar itu keren juga. Bukan cuma sebuah kain dua warna yang berkibar tanpa makna. Dia bisa memberikan pelajaran yang berarti buat orang yang mengemban tugasnya. 

Jadi Ketua OSIS buat Dimas seperti sebuah obsesi karena dia selalu ingin jadi yang nomor satu. Tapi lewat hari ini, dia belajar bahwa ternyata jadi pemimpin tidak berarti harus selalu jadi yang utama. Dia tahu sekarang bahwa bendera yang baru dia kibarkan juga membutuhkan pengorbanan para pahlawan pemimpin yang mengorbankan begitu banyak hal demi terwujudnya negara ini. Dan dia bertekad untuk menjadikannya panutan dalam kepemimpinannya setahun ke depan.

Terima kasih bendera merah putih. Sekarang Dimas tahu seberapa besar makna yang kau punya di atas tiang sana.

Terima kasih sudah membaca cerpen ini! Follow @ijofreak di Instagram untuk update post-post terbaru dari blog ini. Dan jangan lupa share cerpen ini sebanyak-banyaknya kalau lo suka sama ceritanya.

Spread love,

hiLda