Baggage

Gue suka banget jalan-jalan. Bertualang, ngelihat tempat-tempat baru, ketemu orang baru dengan budaya yang berbeda.

Ada satu hal yang gue rasa cukup penting sebelum mempersiapkan jalan-jalan. Demi kelancaran perjalanan di tempat baru yang belum dikenal, gue perlu banget mengatur barang bawaan gue dengan cermat. Memilah barang mana aja yang memang dibutuhin dan ngatur semua barang itu di dalam tas supaya gampang dicari dan diambil – terutama barang-barang yang penting dan sering keluar-masuk tas kayak dompet, tissue, karet rambut, lip balm (– well, barang-barang di kategori ini pasti beda-beda buat masing-masing orang).

Loh, ngapain sih gue ngomongin traveling? Emang lagi nge-review tempat jalan-jalan apaan?

Bukan. Ini bukan lagi mau bikin review ceritanya.

Tapi coba bayangin kehidupan lo sebagai sebuah perjalanan yang panjang. Kalau biasanya lo pergi ke Jepang selama seminggu, perjalanan yang ini lo jalanin selama delapan puluh tahun (– kurang lebih lah ya). Dan perjalanan ini lo lalui sendirian dan pasti juga akan lo akhiri sendirian. Karena gak ada orang yang lahir bareng-bareng (bahkan anak kembar aja keluarnya satu-satu kan ya). Dan gak ada orang yang bisa janjian meninggal barengan terus pergi ke Surga sambil gandengan tangan. So, literally, this life is our own. We start it alone. We end it alone. And it is a very very very long long long journey.

The question is…

Kalau gue bisa ngatur barang bawaan gue dengan begitu cermat buat perjalanan yang cuma beberapa hari, kenapa kadang gue lalai memperhitungkan barang bawaan yang gue tenteng seumur hidup gue ya?

Gue bukan ngomongin barang fisik di sini. Tapi “barang-barang” yang kita bawa dalam diri kita secara emosional. Bisa jadi itu adalah momen-momen bahagia, keberhasilan, apresiasi, jatuh cinta. Atau rasa sakit hati, dendam, kekecewaan, iri. Banyak macamnya.

Sebenarnya ini hal yang simpel.

Misalnya, kalau gue pengen mengurangi barang bawaan selama jalan-jalan, gue bakal memilih barang-barang yang bisa dengan mudah gue buang. Contohnya, gue lebih memilih beli air mineral botolan daripada bawa botol minum sendiri. Karena belajar dari pengalaman, dalam perjalanan yang jauh, botol minum yang gue bawa malah lebih sering hilang di jalan. Yang mana gue jadi harus beli air mineral botol juga akhirnya.

Nah, ruang yang tersisa dari barang-barang yang bisa dibuang ini, gue pakai untuk bawa barang-barang yang gue suka. Contohnya, oleh-oleh buat teman dan keluarga. Percaya deh, barang-barang ini yang biasanya bikin bagasi bengkak waktu pulang dari liburan.

Simpel kan?

Ya. Dan pasti banyak yang melakukannya juga selama jalan-jalan.

Tapi gimana dalam kehidupan kita? Apakah kita melakukannya juga?

Apakah kita cukup sering melakukan screening ke batin kita dan memilih “barang” mana yang perlu kita buang?

Apakah “barang-barang” yang kita simpan dalam hati kita adalah hal-hal yang sungguh berharga dan kita suka? Atau kita masih sering memilih untuk menyimpan sampah-sampah yang seharusnya kita buang?

Jiwa kita itu kayak koper. Ada kapasitas maksimalnya. Kalau kita enggak mengisinya dengan hal-hal yang indah dan rajin-rajin membersihkannya, isinya pasti berantakan dan jelek. Dan ketika kapasitasnya sudah mencapai maksimal, dan isinya cuma barang-barang jelek yang berantakan, koper itu bakal meledak.

Gimana bisa kita melanjutkan acara jalan-jalan kalau koper kita meledak?

Enggak bisa kan…

Jadi, coba deh sekarang lo cek isi bagasi lo.

Dan pastiin apa yang ada di dalamnya adalah hal-hal yang memang lo pengenin ada di sana.

 

Spread love,

hiLda

Leave a Reply