A Man Called Ahok

Banyak kontroversi yang menyertai film ini. Yah… Gak heran lah. Karena tokoh yang diangkat juga selalu mengundang kontroversi. Dia adalah seorang revolusioner. Seorang sosok yang bisa mendobrak batasan-batasan yang udah mendarah-daging. Sesuatu yang dianggap semua orang gak mungkin bisa diubah. Nama orang itu adalah Ahok.

 

How Ahok Become Ahok

Film ini diangkat dari buku berjudul sama yang awalnya di-publish lewat Twitter oleh @kurawa yang bernama asli Rudi Valinka. Di masa Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat sedang berjuang untuk memperebutoan kursi DKI 1 dan 2, Rudi merantau ke tanah kelahiran Ahok di Belitung Timur untuk mencari tahu siapa Ahok sebenarnya dan gimana dia bisa jadi seorang Ahok yang sekarang. Yang walaupun berasal dari kaum minoritas bisa dengan gigih berjuang membela rakyat kecil di dunia perpolitikan yang bukan biasanya menjadi ranah juang seorang “Cina”.

Di sana Rudi mewawancarai banyak sekali orang yang mengenal Ahok sejak masa kecilnya. Dari guru-gurunya, supirnya, sampai orang yang menjadi saingan terbesar Ahok waktu dia berjuang untuk menjadi Bupati Belitung. Dari situlah dia tahu sosok yang paling berpengaruh dalam kehidupan Ahok. Orang itu adalah ayahnya Tjung Kim Nam atau yang biasa dipanggil oleh penduduk desanya Tauke (— yang artinya Big Boss).

 

Sang Tauke

Kim Nam bisa jadi begitu terpandang karena kemurahanhatinya yang luar biasa. Banyak orang kecil yang sedang kesulitan datang kepadanya untuk minta bantuan dana. Dan sebisa mungkin dia selalu membantu mereka meskipun harus mengorbankan kenyamanan keluarganya sendiri. Hal ini sering menjadi bahan perdebatan antara Kim Nam dan istrinya. Tapi Kim Nam tetap gigih melakukan apa yang dia lakukan supaya dia bisa memberi pelajaran berharga buat anak-anaknya kelak. Sesuatu yang sekarang dapat kita saksikan secara nyata dalam diri Ahok, sang putra sulung.

Tauke adalah seorang vendor yang bekerja sama dengan pertambangan timah di Belitung. Karenanya, dia sering bersinggungan dengan para pejabat pemerintah yang seringkali berulah “nakal” dengan dalih “ini kan udah biasa”. Tauke benci harus melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nuraninya. Tapi demi seluruh pegawai yang menggantungkan hidupnya kepadanya, dia terpaksa mengikuti cara mereka supaya tetap bisa mendapatkan jatah pekerjaan.

Sejak Ahok kecil, dia sudah menyaksikan fenomena ini. Hingga waktu dia kembali ke Belitung dan membuka usahanya sendiri, dia kembali diterpa dengan masalah yang sama. Hingga akhirnya dia sadar akan hal ini yang diajarkan ayahnya:

Orang miskin jangan melawan orang kaya. Orang kaya jangan melawan pejabat.

Maka akhirnya dia berjuang untuk menjadi pejabat demi membela orang-orang yang tertindas di kampungnya. Dan itu terus dia lakukan sampai dia menjadi Gubernur DKI Jakarta.

 

Bukan Film Tentang SARA

Film ini dengan semaksimal mungkin menghindari konteks SARA sama sekali. Makanya selain asal-usul keluarga Ahok yang adalah keturunan Tionghoa, enggak ada satu pun masalah SARA yang diangkat di sini. Gak ada atribut partai. Gak ada atribut pemerintahan. Gak ada atribut agama yang diekspos secara khusus. Bahkan sama sekali enggak diceritakan tentang kasus yang akhinya mengakibatkan Ahok berada di Mako Brimob sekarang.

Jadi bua elo semua yang mendengar isu negatif tentang film ini, tenang aja, film ini enggak memicu isu-isu sensitif kok. Satu-satunya hal yang bakal bikin lo sensi abis nonton film ini adalah betapa sedihnya melihat perjuangan Ahok selama ini dan di mana dia berada sekarang.

 

Tauke yang Sebenarnya

Begitu film ini dirilis, ada tanggapan dari Bu Fifi Lety yang adalah adiknya Ahok. Menurut beliau, sosok Kim Nam yang ada di film enggak sesuai dengan orang yang sebenarnya.

 

View this post on Instagram

 

Koko yuyu (Basuri) thank you? Miss you Papa❤️??, ini rumah Kami Tanpak depan dan Papa dari gambar trus bisa jd “arsitek” trus papa Yg bangun juga. Tiap Tgl 1 Januari Papa open house sekaligus rayain ultah aku. Papa dan aku siap sambut tamu 2 ❤️ Di hut aku Yg terakhir dengan Papa. Di tahun Yg sama Tgl 13 December Papa meninggal bertepatan dengan Tgl hari sidang dimana koko Ahok bacakan eksepsi nya sampai nanggis karena ingat Papa dan pesan mencintai Indonesia dan berburu harimau dgn saudara kandung. Kami berdua nanggis ingat Papa. Setelah sidang ini koko Ahok tdk pernah nanggis dan tetap tenang tegar ? sampai hari putusan. So proud of both of you Papa and my brothers and my mum she is amazing women ( proverbs 31) truly I am so blessed have you all in my life ❤️?❤️???

A post shared by Fifi Lety Tjahaja Purnama (@fifiletytjahajapurnama) on

Terlepas dari akting yang memukau dari Deny Sumargo (– yang memerankan Kim Nam muda), memang setelah nonton film ini kesan yang gue tangkap adalah: Pak Kim Nam ini orangnya kasihan ya. Haha… Padahal kalau lihat dari post di IG Bu Fifi, Pak Kim Nam nih orangnya ya seperti bos besar. Gayanya enggak kayak orang susah seperti yang digambarkan di film. Dan dia pun punya wibawa yang kurang dapat disampaikan secara sempurna di film.

Sebenarnya hal ini memang patut disayangkan. Karena tokoh Pak Kim Nam ini cukup menjadi sentral di film ini. Bukan cuma sekedar pemeran pembantu doang.

 

Film Ini Menurut Gue
This section contains spoiler! Only proceed if you’re sure you know the risk!

 

Bagaimana pun kenyataan yang sebenarnya, menurut gue lo akan tetap terpukau dengan akting yang ditampilkan Deny Sumargo. Gue pribadi lebih suka akting Deny daripada Kin Wah Chew yang memerankan Kim Nam Tua. Menurut gue Deny lebih “Indonesia” rasanya. Jadi lebih tepat dalam berbicara dan bersikap daripada Kin Wah Chew. Dan menurut gue, yang jadi sosok sentral dalam film ini itu ya dia, si tokoh Kim Nam muda yang sangat berpengaruh dalam pembentukan pribadi Pak Ahok.

Oh ya, sebenarnya satu lagi yang gue kurang suka dari film ini adalah gimana sosok muda dan tua kedua orang tua Ahok itu benar-benar gak ada kemiripannya sama sekali. Jadi begitu film beralih dari masa kecil Ahok ke masa dewasanya, kayak dua bagian berbeda yang gak bisa dijahit jadi satu dengan rapi.

Dan satu lagi, kalau soal Daniel Mananta yang memerankan Ahok, banyak yang bilang dia gak cocok. Dan emang aktingnya masih banyak yang harus dibenahi. Karena meskipun gayanya mirip dengan Pak Ahok yang asli, ada beberapa detail kecil yang bikin aktingnya enggak believable. Terlepas dari itu, menurut gue VJ Daniel memang orang yang paling tepat buat memerankan tokoh Ahok ini. He has the face and the fame. So… No complaint from me.

Bottomline, menurut gue film ini sangat inspiratif dan layak ditonton. Bahkan sangat sayang kalau dilewatkan. Karena begitu keluar dari bioskop, lo ga akan tahu apakah film ini bakal diputar lagi di TV atau enggak. Mengingat banyaknya muatan politik yang dibawa di sini.

So, kalau lo ragu-ragu mau nonton atau enggak, mendingan lo buruan nonton sebelum filmnya turun deh. Kalau kelewatan lo pasti bakal rugi banget.

Score: ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️/10

 

PS: Oh ya, gue teringat gue pernah beliin buku ini buat hadiah ultah suami gue tahun lalu. Dan di buku itu tertulis pesan pribadi dari Pak Ahok langsung. Nonton filmnya sekarang bikin gue terharu banget. Dan memang orang yang berbesar hati kayak Pak Ahok itu emang langka. Semoga beliau segera mendapatkan keadilan ya. Gusti ora sare.

PS2: Stay in the cinema a bit longer after the movie ended. Setelah nama-nama aktor disebutkan, sebelum rolling credit, ada bagian yang menampilkan foto-foto tokoh yang sebenarnya disandingkan dengan tokoh di film. Buat gue bagian ini menarik banget karena kita bisa tahu orang yang sebenarnya kayak apa sih mukanya. ?

 

Spread love,

hiLda

Leave a Reply